Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Senin (29/6/2026), terseret dua sentimen besar yang mendorong pelemahan logam mulia tersebut.

Sentimen pertama berasal dari memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak. Sentimen kedua adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Penurunan Harga Dan Data Perdagangan

Pada penutupan, harga emas tercatat anjlok 1,78% menjadi US$ 4.016,66 per ons troi. Di awal perdagangan, emas sempat merosot lebih dari 2% setelah pekan sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup turun 1,6% menjadi US$ 4.030,7 per ons troi.

Respons Pasar Terhadap Konflik Dan Sinyal The Fed

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar sangat mencermati perkembangan di Timur Tengah sekaligus perubahan sikap The Fed yang semakin hawkish.

“Pasar sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah. Ketegangan yang meningkat selama akhir pekan dan sikap The Fed yang semakin hawkish menjadi tekanan utama bagi harga emas,”

Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu. Aksi tersebut menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terkait kepemimpinan Iran dalam konteks perjanjian damai final.

Lonjakan Minyak Dan Implikasi Inflasi

Serangkaian serangan memicu kenaikan harga minyak mentah Brent secara tajam. Lonjakan energi ini menimbulkan kekhawatiran inflasi kembali meningkat, yang pada gilirannya memperbesar peluang The Fed menaikkan suku bunga.

Meskipun emas dikenal sebagai aset safe haven, kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan negatif pada harga emas. Inflasi yang lebih tinggi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Dolar Menguat Dan Fokus Data Ketenagakerjaan

Dolar AS menguat dan berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun. Penguatan dolar membuat emas relatif lebih mahal bagi investor non-AS sehingga permintaan melemah.

Meski The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan terakhir, pembuat kebijakan memberi sinyal kemungkinan kenaikan tambahan tahun ini karena inflasi masih di atas target 2%.

Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi AS yang dianggap penting, yaitu laporan tenaga kerja versi ADP yang rilis Rabu dan data nonfarm payrolls (NFP) pada Kamis. Pasar berharap kedua indikator itu memberi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Grant menilai harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan jika data ketenagakerjaan menunjukkan ketahanan ekonomi. “Jika data ketenagakerjaan masih kuat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama akan semakin besar. Itu bisa mendorong harga emas mencetak level terendah baru,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan pasar, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini mencapai sekitar 63%.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Di pasar logam mulia lainnya, perak turun 1,51% menjadi US$ 58,29 per ons, platinum turun 2,13% menjadi US$ 1.583,35 per ons, sementara palladium justru menguat 1,04% menjadi US$ 1.225,65 per ons.