Harga emas dunia berbalik naik pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah data inflasi Amerika Serikat yang dirilis sesuai perkiraan pasar memicu pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Kondisi itu meningkatkan minat investor terhadap logam mulia sebagai aset safe haven.
Harga emas ditutup menguat 0,69% ke US$ 4.026,78 per ons troi, setelah sempat anjlok sekitar 1% pada awal sesi. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga naik 0,82% ke US$ 4.041,75 per ons troi.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pasar merespons positif data PCE (Personal Consumption Expenditures) yang sebagian besar sesuai ekspektasi analis. “Data PCE sebagian besar sesuai ekspektasi. Itu menjadi salah satu alasan mengapa harga emas mampu bertahan dan kembali menguat pada hari ini,” kata Meger.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks harga PCE naik 4,1% secara tahunan pada Mei, kenaikan terbesar dan pertama kali berada di atas 4% sejak April 2023. Angka itu sejalan dengan proyeksi ekonom yang disurvei.
Setelah data dirilis, indeks dolar AS yang sebelumnya menguat berbalik melemah. Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain sehingga mendorong permintaan. Di saat bersamaan, yield obligasi pemerintah AS bergerak turun, memberi sentimen tambahan bagi pasar emas.
Suku Bunga Membayangi
Pelaku pasar juga mengurangi sedikit ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada Desember turun menjadi sekitar 80% dari sekitar 85% sebelum data inflasi dirilis. Sepekan sebelumnya, peluang tersebut sempat berada di kisaran 61% setelah pertemuan kebijakan The Fed.
Meger menilai arah pergerakan emas selanjutnya masih sangat tergantung pada perkembangan inflasi AS. “Fokus utama pasar tetap pada tekanan inflasi ke depan. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan mengapa harga emas sempat melemah dalam beberapa sesi terakhir,” ujarnya.
Pada Rabu (24/6/2026), harga emas sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kali sejak November 2025, seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi setelah sinyal kebijakan hawkish dari The Fed pekan lalu.
Meskipun dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya kehilangan daya tarik saat suku bunga naik karena investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Pergerakan Logam Lain dan Minyak
Di pasar logam mulia lain, perak spot naik 1,7% menjadi US$ 58,38 per ons, platinum menguat 1,8% ke US$ 1.606,61 per ons, dan palladium naik 1,9% ke US$ 1.188,19 per ons.
Sementara itu, harga minyak dunia bergerak naik tipis, namun prospek bertambahnya pasokan dari Timur Tengah setelah tercapainya perjanjian mengakhiri perang Iran membuat harga masih berada di sekitar level sebelum konflik pecah.
Ikuti Ihram.co.id
