Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives naik pada penutupan Senin (29/6/2026), memperpanjang penguatan untuk hari kedua berturut-turut. Sentimen positif datang dari lonjakan ekspor Malaysia sepanjang Juni dan dimulainya program biodiesel B50 di Indonesia.
Kontrak berjangka untuk Juli 2026 naik 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.523 Ringgit per ton. Kontrak Agustus 2026 menguat 19 Ringgit menjadi 4.558 Ringgit per ton, sementara September naik 20 Ringgit menjadi 4.588 Ringgit per ton.
Kontrak Oktober 2026 melonjak 21 Ringgit menjadi 4.612 Ringgit per ton. Kontrak November naik 22 Ringgit menjadi 4.633 Ringgit per ton, dan Desember 2026 meningkat 22 Ringgit menjadi 4.653 Ringgit per ton.
Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, mengatakan kenaikan ekspor Malaysia pada Juni menjadi penopang utama harga CPO. Implementasi mandatori B50 di Indonesia juga memperkuat sentimen pasar.
“Ekspor yang kuat sepanjang Juni memberikan dukungan terhadap harga, sementara kebijakan mandatori B50 di Indonesia menjadi katalis tambahan bagi pasar,”
Mulai 1 Juli 2026, Indonesia menerapkan program biodiesel B50—campuran 50% biodiesel berbahan baku minyak sawit dengan 50% solar. Kebijakan ini diperkirakan meningkatkan konsumsi domestik CPO dan mengurangi pasokan untuk pasar ekspor.
Data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–25 Juni meningkat antara 10,6% hingga 11,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Pelaku pasar menantikan data ekspor penuh sepanjang Juni yang dijadwalkan rilis pada Selasa.
Produksi Mulai Pulih
Dari sisi pasokan, produksi CPO di Semenanjung Malaysia menunjukkan pemulihan lebih baik dari perkiraan, sedangkan produksi di wilayah Malaysia Timur masih relatif lemah. Paramalingam menyebut kondisi cuaca yang kondusif diperkirakan akan mendukung produksi hingga kuartal III-2026.
Meski demikian, menurut dia, harga CPO diperkirakan masih bergerak dalam kisaran terbatas hingga pasar memperoleh arahan baru dari laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board yang akan dirilis pada 10 Juli.
Penguatan harga juga mengikuti kenaikan minyak nabati lain. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,65% dan kontrak minyak sawit menguat 1,26%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,49%.
Harga minyak mentah dunia yang tetap di level tinggi turut mendukung CPO. Kenaikan harga minyak membuat minyak sawit lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga meningkatkan prospek permintaan.
Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0,44% terhadap dolar AS sedikit membatasi kenaikan harga CPO karena membuat komoditas tersebut lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Ikuti Ihram.co.id
