Harga minyak Brent melonjak lebih dari US$1 per barel pada pembukaan perdagangan Senin (22/6/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian seputar pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung pada akhir pekan.

Pasar bereaksi terhadap hambatan dalam pembicaraan damai sementara antara kedua negara, yang memicu kekhawatiran soal stabilitas pasokan energi global.

Pergerakan Harga

Pada saat pelaporan, harga Brent tercatat naik US$1,09 atau 1,35% menjadi US$81,66 per barel. Sebelumnya, harga sempat menyentuh puncak US$82,30 pada awal perdagangan.

Faktor Geopolitik

Sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran terkait arah negosiasi.

Wakil Presiden AS JD Vance diketahui bertemu pejabat Iran pada Minggu (21/6/2026) dalam pembicaraan awal di bawah kerangka kesepakatan damai sementara. Namun situasi tetap tidak menentu setelah Presiden AS Donald Trump mengancam kemungkinan eskalasi jika kesepakatan gagal tercapai.

Selain itu, Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting distribusi minyak dunia, yang menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.

Respons Pasar

Kombinasi faktor geopolitik tersebut membuat harga minyak bergerak lebih volatil, dengan pelaku pasar memantau perkembangan negosiasi AS–Iran yang dinilai krusial bagi arah pergerakan harga dalam jangka pendek.