Harga minyak dunia ditutup lebih tinggi pada perdagangan Senin (29/6/2026), setelah kekhawatiran pasar meningkat seiring memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kenaikan masih terbatas oleh harapan langkah diplomasi berlanjut dan tanda-tanda pemulihan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilintasi sekitar 20% pasokan minyak global.

Harga minyak mentah Brent naik US$1,16 atau 1,61% menjadi US$73,15 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,52 atau 2,2% ke US$70,75 per barel.

Serangan Balasan Memicu Kekhawatiran

Aksi saling serang antara AS dan Iran pada akhir pekan memunculkan kekhawatiran baru soal stabilitas pasokan energi. Pasar mencermati risiko gangguan pada implementasi kesepakatan damai sementara yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.

Meski demikian, ada laporan bahwa tim teknis dari kedua pihak dijadwalkan bertemu di Doha dalam beberapa hari mendatang untuk membahas implementasi kesepakatan. Pertemuan ini menjadi salah satu faktor yang menahan lonjakan harga lebih jauh.

Fokus Pada Selat Hormuz

Perhatian pelaku pasar tertuju pada kondisi Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan para ahli Iran dan Oman akan memulai pembahasan mengenai pengaturan ulang jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Iran juga menegaskan akan menghalangi kapal yang berlayar di luar jalur yang ditetapkan.

Sementara itu, aktivitas ekspor dari kawasan Teluk Persia menunjukkan tanda pemulihan. Sejumlah analis menilai ekspor telah kembali mencapai sekitar 75% dari level sebelum konflik.

Kekhawatiran Pasokan Belum Mereda

Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, memperingatkan risiko keamanan di Selat Hormuz masih tinggi sehingga arus pengiriman minyak sulit kembali normal dalam waktu dekat.

“Pasokan minyak tidak bisa langsung kembali ke level sebelum perang dalam satu atau dua pekan. Selama ancaman keamanan masih ada, setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz tetap menghadapi risiko serangan,”

Yawger juga menunjuk pada keberadaan ranjau laut dan tingginya biaya asuransi pelayaran sebagai hambatan bagi normalisasi lalu lintas kapal di jalur tersebut.

Produsen Tetap Eksport

Produsen minyak di kawasan Timur Tengah melanjutkan aktivitas ekspor minyak mentah dan gas alam cair. Perusahaan energi Arab Saudi, Aramco, dilaporkan kembali melakukan pemuatan minyak di Terminal Ras Tanura sejak Jumat lalu setelah sempat terhenti hampir empat bulan akibat konflik.

Operasional terminal tetap berjalan meski sebuah helikopter milik Aramco jatuh di Ras Tanura pada Minggu, menewaskan 14 orang; penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan.

Analis memperkirakan harga minyak akan bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan, seiring perkembangan situasi AS-Iran dan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.