Harga minyak dunia kembali menguat pada awal perdagangan Senin (29/6/2026) menyusul eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar merespons meningkatnya ketidakpastian terkait pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,71% menjadi US$69,72 per barel, sedangkan Brent menguat 0,36% ke US$72,25 per barel.
Perundingan Dilaporkan Berhenti Sementara
Sumber yang terlibat dalam proses negosiasi menyampaikan pembahasan untuk mengakhiri konflik dihentikan sementara. Meski begitu, seluruh delegasi disebut masih berada di Swiss dan dinyatakan siap melanjutkan perundingan setelah mendapat persetujuan dari masing-masing pihak.
Saat yang sama, pejabat senior pemerintahan AS membantah kabar pembatalan perundingan.
“Belum ada yang dibatalkan,”
Pejabat tersebut menambahkan pembicaraan teknis terkait implementasi nota kesepahaman tetap berjalan sesuai jadwal dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan serupa juga disampaikan pejabat AS yang memastikan pembahasan teknis masih akan berlanjut.
Ancaman dan Respons Militer
Pasar makin waspada setelah militer AS menyerang sejumlah fasilitas militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi besar atas tindakan tersebut.
Selain itu, Kuwait dan Bahrain melaporkan serangan rudal dan drone pada Minggu malam, menimbulkan kekhawatiran konflik dapat meluas ke negara-negara Teluk lainnya.
Dampak Pasar Energi
Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan kembali menjadi perhatian pelaku pasar energi. Investor kini mengamati perkembangan yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan mendorong volatilitas harga dalam jangka pendek.
Ikuti Ihram.co.id
