Harga minyak mentah dunia anjlok hingga sekitar 4% pada perdagangan Jumat (26/6/2026), menandai pekan penurunan terparah dalam beberapa waktu. Pelemahan ini terkait meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz tercatat tetap lancar.
Kontrak Brent ditutup turun US$ 3,27 (4,34%) menjadi US$ 71,99 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 2,69 (3,74%) menjadi US$ 69,23 per barel. Secara mingguan, Brent merosot 10,86% dan WTI turun 9,62% sejak penutupan perdagangan Kamis pekan lalu.
“Ada keyakinan yang semakin kuat bahwa minyak akan terus mengalir melalui Selat Hormuz,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Sebelumnya pasar sempat khawatir pasokan terganggu sebelum tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari. Namun kekhawatiran itu mulai mereda sehingga menekan permintaan untuk pembelian hedging oleh pelaku pasar.
Tamas Varga, analis di PVM, menyatakan pandangan dominan saat ini mengarah pada potensi kelebihan pasokan dalam waktu dekat. “Kita akan melihat banjir pasokan minyak. Saya pikir akan ada lonjakan besar pasokan produk energi,” ujarnya.
Pergerakan pasokan turut dipengaruhi oleh kembalinya aktivitas pemuatan minyak dari terminal Ras Tanura di Teluk Arab setelah hampir empat bulan berhenti. Data menunjukkan dua kapal tanker berukuran sangat besar (VLCC), masing-masing berkapasitas sekitar 2 juta barel, telah memuat minyak di terminal tersebut, sementara kapal lain masih menunggu giliran.
June Goh, analis pasar minyak di Sparta Commodities, menambahkan pelemahan juga didorong oleh meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan belum pulihnya permintaan minyak mentah dari China. “Terjadi aksi jual secara luas karena pasar bereaksi terhadap meningkatnya arus kapal keluar dari Selat Hormuz, sementara permintaan minyak mentah dari China masih belum menunjukkan pemulihan,” kata dia.
Ketegangan Selat Hormuz
Sehari sebelumnya, harga sempat melonjak setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil di perairan dekat Oman. Insiden itu sempat memicu penghentian sementara program evakuasi sukarela di kawasan tersebut dan menimbulkan kekhawatiran soal keamanan pelayaran.
Otoritas di kawasan kemudian menegaskan kembali hak pengendalian navigasi dan memperingatkan negara-negara agar tidak berpihak. Meskipun volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pekan ini mencapai level tertinggi sejak konflik regional meningkat pada akhir Februari, total lalu lintas masih jauh di bawah rata-rata harian sebelum konflik.
Sementara itu, terdapat informasi bahwa pemerintah Rusia tengah mempertimbangkan larangan ekspor solar (diesel) untuk beberapa bulan ke depan. Langkah tersebut muncul di tengah gangguan pasokan bahan bakar yang disebabkan kerusakan pada kilang dan infrastruktur energi setelah serangan drone.
Ikuti Ihram.co.id
