HIPMI Pasar Modal & IPO menyambut positif penetapan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2026–2030. Organisasi itu menilai susunan direksi baru berpotensi mendorong kemajuan pasar modal domestik baik dari sisi kuantitas maupun kualitas investor.

Ketua Badan Otonom HIPMI Pasar Modal & IPO, Riky Boy Permata, mengatakan pelantikan direksi BEI menjadi momentum bagi pelaku usaha memanfaatkan instrumen pasar modal, termasuk proses initial public offering (IPO), untuk memperluas akses pendanaan.

— “Ini juga menjadi semangat bagi para pengusaha dan industri, agar dapat memanfaatkan instrumen pasar modal untuk mendapatkan pendanaan melalui proses IPO,” ujar Riky.

Riky menyampaikan harapan agar kepemimpinan baru BEI dapat memberi stimulus yang mendorong perusahaan nasional masuk ke lantai bursa. Menurutnya, peningkatan akses pendanaan di pasar modal akan berkontribusi pada bertambahnya emiten baru yang memiliki fundamental kuat.

HIPMI Stocks menegaskan komitmen untuk bersinergi dengan manajemen BEI yang baru. Organisasi itu mengatakan akan menjembatani pengusaha daerah dan nasional agar dapat memanfaatkan momentum go public sebagai pilar ekspansi bisnis berkelanjutan.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan susunan direksi PT Bursa Efek Indonesia untuk masa jabatan 2026–2030. Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Direktur Utama menggantikan Iman Rachman.

Selain pengangkatan Jeffrey, OJK juga menunjuk beberapa nama untuk posisi strategis di BEI: Saidu Solihin sebagai Direktur Penilaian Perusahaan; Irvan Susandy sebagai Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa; dan Yulianto Aji Sadono sebagai Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan.

Susunan direksi dilengkapi dengan penunjukan Iding Pardi sebagai Direktur Pengembangan Perusahaan; Umi Kulsum sebagai Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum; serta Abdul Munim sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko.

HIPMI berharap sinergi dengan jajaran BEI yang baru akan membuka akses pendanaan lebih luas sehingga mendorong pertumbuhan jumlah emiten dengan kualitas fundamental yang lebih baik.