Aroma bawang goreng yang baru diangkat memenuhi dapur rumah di Kampung Carangpulang, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Sejumlah kemasan olahan seperti kacang bawang dan kentang mustofa tersusun rapi di meja, menunggu untuk dikirim atau dititipkan ke galeri UMKM serta titik pemasaran langganan.

Kegiatan rumahan milik Euis Sunarsih (46) itu bermula dari hobi memasak yang kemudian berkembang menjadi usaha skala kecil. “Saya memang senang masak dari dulu. Awalnya cuma coba-coba buat keluarga dan tetangga,” kata Euis.

Awal Usaha dan Pemanfaatan Potensi Lokal

Perjalanan usaha Euis dimulai pada 2016 saat ia bergabung dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Cikarawang yang mendapat pendampingan dari Institut Pertanian Bogor. Di sana, wanita-wanita desa didorong mengolah potensi pertanian setempat menjadi produk bernilai ekonomi.

Singkong yang melimpah di kampung menjadi bahan awal. Euis memilih daun singkong, lalu membersihkan, merebus, mengiris tipis, mencampur dengan tepung, mencetak, dan menggoreng hingga renyah. “Awalnya memang keripik daun singkong. Itu produk pertama saya,” ujarnya.

Keripik itu kemudian diperkenalkan melalui pameran yang diselenggarakan IPB dan didukung pelatihan pengemasan, pemasaran, serta pengurusan izin usaha seperti halal dan PIRT. Ia juga mendapat bantuan pembuatan logo.

Terus Berinovasi

Euis tidak berhenti pada keripik daun singkong. Dari dapurnya lahir produk lain seperti pangsit balado, kacang bawang, hingga kentang mustofa yang kini menjadi andalan.

Kisah kentang mustofa berawal dari pesanan tak terduga. Karena tawaran dari suaminya, Euis belajar membuatnya lewat internet dan langsung mencoba. “Saya belum pernah bikin sama sekali. Tapi karena sudah ditawarkan, akhirnya saya belajar dari internet, lihat YouTube, baca-baca resep, lalu langsung coba,” katanya.

Percobaan pertama menghasilkan pesanan 50 bungkus, lalu kentang mustofa berkembang sebagai produk laris. Untuk menjaga kualitas, Euis memilih menggunakan kentang asal Dieng karena menurutnya teksturnya lebih renyah.

Kacang bawang juga menjadi favorit pelanggan. Berawal untuk mengisi etalase galeri UMKM, Euis mengemasnya dalam ukuran kecil dengan harga terjangkau. “Kacang bawang paling cepat habis. Kalau di galeri kecamatan, seminggu bisa sampai satu setengah kilogram terjual,” kata dia.

Modal, Dukungan Program, dan Skala Usaha

Peluang usaha semakin terbuka ketika Euis mengakses program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekitar 2021, setelah pandemi Covid-19. Pinjaman awal Rp15 juta dipakai untuk membeli mesin pengolahan, peralatan produksi, dan perlengkapan sehingga produksi terpisah dari peralatan rumah tangga.

Di kemudian hari ia mengajukan Rp20 juta namun disetujui Rp35 juta yang digunakan untuk menambah modal dan membenahi tempat usaha. Selain itu, Euis juga menerima bantuan hibah melalui program Tenaga Kerja Mandiri Pemula (TKMP) dari Kementerian Ketenagakerjaan dan pemanfaatan peralatan bersama dari KWT.

“Kita jadi lebih tenang karena cukup dari satu bank. Yang penting kita bertanggung jawab dengan pinjaman yang kita ambil. Saya tidak berani pinjam ke pinjol,” ujar Euis.

Pendapatan dan Pemasaran

Dari usaha yang bermula dari hobi memasak, Euis kini mampu memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp2 juta per bulan. Produk dipasarkan melalui galeri UMKM, jaringan kelompok tani, serta pesanan langsung dari pelanggan.

Dengan modal pelatihan, peralatan, dan akses pembiayaan, Euis melanjutkan inovasi produknya sambil menjaga kualitas untuk mempertahankan permintaan pasar.