Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih rentan mengalami koreksi lanjutan pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Penguatan indeks di bursa Wall Street dan pergerakan nilai tukar rupiah disebut-sebut sebagai sentimen positif yang bisa menopang pasar.
Di sisi lain, berlanjutnya aksi jual investor asing serta penurunan harga batubara dan komoditas mineral logam berpotensi memberi tekanan negatif bagi IHSG.
Ihram.co.id — “IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 5.735-5.650 dan resist 5.910-5.995,”
Pernyataan di atas disampaikan oleh CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan pasar pada hari tersebut.
Penguatan Wall Street Jadi Sentimen Positif
Pembukaan pekan di pasar global menunjukkan indeks-indeks utama AS kompak menguat, meski volume perdagangan relatif rendah menjelang libur nasional pada Jumat mendatang. Penguatan dipimpin oleh saham produsen chip, yang tercermin pada kenaikan VanEck Semiconductor ETF sebesar 3,33%.
Kenaikan sektor teknologi turut menopang penguatan indeks S&P 500 dan Nasdaq. Sementara itu, Alphabet mencatatkan lonjakan 4,82% pada debutnya sebagai konstituen Dow Jones, sehingga Dow Jones Industrial Average menutup di atas level 52.000 untuk pertama kali dalam sejarah.
Perkembangan Geopolitik
Dari kawasan Timur Tengah, laporan menyebut Amerika Serikat dan Iran sepakat menunda aksi saling serang dan memperbolehkan kapal melintasi Selat Hormuz. Kedua pihak juga disebutkan akan meneruskan pembahasan nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya.
Rekomendasi Saham Untuk Trading
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan daftar saham yang direkomendasikan untuk trading pada hari tersebut, yakni: UNVR, WIIM, HMSP, GGRM, ADRO, dan ANTM.
Ikuti Ihram.co.id
