Market

IHSG Jatuh ke Level 8.715 Setelah Rekor ATH, Tekanan pada Saham-Saham Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam menjelang penutupan perdagangan Senin (12/1/2026), meskipun sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) pada sesi pertama perdagangan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat di level 8.991,76 dan sempat menembus level tertinggi intraday di 9.000,967, menorehkan rekor ATH baru untuk bursa domestik. Namun, momentum penguatan ini tidak bertahan hingga penutupan, karena tekanan jual mulai muncul pada sesi siang.

Menjelang pukul 14.39 WIB, IHSG tercatat berada di level 8.840,31, turun 96,45 poin atau 1,08 persen dari posisi pembukaan. Tekanan jual yang berlangsung sepanjang siang membuat IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 8.715,41, atau turun sekitar 250 poin dibandingkan saat pembukaan bursa.

Sektor Energi Menjadi Pendorong Koreksi

Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan bahwa koreksi tajam IHSG sebagian besar disebabkan oleh tekanan pada saham-saham sektor energi yang sempat terkoreksi sekitar 2 persen.

“Pergerakan koreksi ini kami lihat dibebani oleh emiten-emiten energi yang sebelumnya menguat signifikan, sehingga muncul aksi ambil untung dari investor,” kata Herditya saat dikonfirmasi. Ia menambahkan bahwa koreksi ini wajar dan tidak berlangsung terus-menerus.

Seiring berjalannya perdagangan, IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan atau rebound, meski masih berada di zona negatif menjelang penutupan.

Meski terjadi koreksi, aktivitas transaksi di pasar saham tetap tinggi. BEI mencatat volume perdagangan mencapai 56,388 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp30,229 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 4.005.796 kali.

Dari sisi pergerakan saham, tekanan jual terlihat dominan. Sebanyak 513 saham melemah, 218 saham menguat, dan 80 saham stagnan hingga akhir sesi I.

Sentimen Pasar dan Prospek IHSG

Analis menilai bahwa koreksi ini merupakan reaksi normal pasar terhadap reli IHSG sebelumnya yang sempat menembus level psikologis 9.000. Aksi ambil untung pada saham-saham unggulan, terutama sektor energi, menjadi katalis utama penurunan sementara ini.

Herditya menekankan bahwa secara teknikal, rebound masih mungkin terjadi sepanjang perdagangan hari ini, terutama jika tekanan jual pada emiten unggulan mereda.

Baca Juga: IHSG Menguat di Sesi I, Sejumlah Saham Catat Kenaikan Signifikan

“IHSG cenderung bergerak fluktuatif di tengah aksi ambil untung, namun peluang untuk pulih tetap ada,” tambahnya.

Dengan volatilitas yang tinggi, investor disarankan mencermati pergerakan saham-saham blue chip dan sektor energi sebagai indikator arah pasar selanjutnya.