Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada sesi I perdagangan Jumat (26/6/2026) setelah anjlok 163 poin atau 2,73% ke level 5.835. Aksi jual dipicu kombinasi sentimen negatif dari luar dan dalam negeri yang memperberat tekanan pasar.
Pelaku pasar mencermati perkembangan di pasar global, khususnya respons investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei yang sesuai ekspektasi.
Tekanan Dari Pasar Global
Pelaporan riset menilai pelemahan bursa Asia mengikuti tekanan yang dialami Wall Street. Meski data PCE meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan di kemudian hari.
Dalam riset disebutkan pasar memperkirakan peluang sekitar 80% The Fed menaikkan suku bunga pada Desember, sementara probabilitas kenaikan pada September diperkirakan mencapai sekitar 63% menurut CME FedWatch Tool.
Pejabat The Fed memberikan catatan yang turut menjadi perhatian investor. Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan tekanan inflasi diperkirakan akan mereda tahun ini, tetapi masih berada di level yang terlalu tinggi. Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menilai inflasi sektor jasa mulai menunjukkan perbaikan, namun tekanan inflasi secara keseluruhan masih jauh dari target bank sentral.
Sentimen Dalam Negeri
Dari dalam negeri, pasar juga tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap iklim investasi menyusul terbitnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 yang mengubah ketentuan dalam UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Salah satu perubahan yang disorot adalah Pasal 50A terkait perlindungan hukum bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Perubahan tersebut dinilai oleh sebagian pelaku pasar berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap tata kelola sistem keuangan.
“Kekhawatiran muncul karena kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pencucian uang serta memengaruhi kepercayaan investor terhadap integritas regulasi di Indonesia,”
Tekanan tambahan datang dari turunnya posisi Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026. Peringkat daya saing tercatat turun delapan tingkat menjadi peringkat 48 dari 70 negara, yang menurut riset dipengaruhi oleh melemahnya efisiensi bisnis, efektivitas pemerintah, serta kualitas infrastruktur.
Pergerakan Saham dan Rekomendasi
Pada sesi I, sejumlah saham mencatat kenaikan, antara lain RICY, ASPI, TRUS, MGNA, dan BHAT. Di sisi lain, saham dengan pelemahan terdalam adalah CTBN, FUJI, CLPI, GPSO, dan UVCR.
Riset merekomendasikan aksi beli untuk saham KLBF pada perdagangan sesi II dengan area support di 765 dan target resistance di 850.
Ikuti Ihram.co.id
