Perjalanan PT Indofarma Tbk untuk kembali menjadi perusahaan farmasi yang sehat masih panjang, namun tanda-tanda pemulihan mulai terlihat pada 2025. Setelah menghadapi tekanan keuangan dan suspensi saham selama beberapa tahun, emiten pelat merah ini berhasil memangkas rugi dan memperbaiki struktur biaya.
Tahun 2025 menjadi periode konsolidasi bagi manajemen untuk memperkuat fondasi bisnis dan menyiapkan sumber pertumbuhan baru, termasuk ekspor dan pengembangan produk herbal bernilai tinggi.
Direktur Utama PT Indofarma Tbk Sahat Sihombing mengatakan perseroan fokus pada transformasi disiplin dan terukur di tengah tantangan industri.
Ihram.co.id — “Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri, perseroan tetap fokus menjalankan transformasi secara disiplin dan terukur. Berbagai langkah efisiensi dan optimalisasi yang kami lakukan telah menghasilkan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,”
Transformasi tidak hanya menyasar pemangkasan biaya, melainkan hampir seluruh aspek bisnis: penataan organisasi, pengelolaan portofolio produk, penguatan pasar ekspor, dan pengembangan usaha berbasis kekayaan hayati Indonesia.
Salah satu langkah awal manajemen adalah efisiensi menyeluruh terhadap operasi perusahaan. Strategi itu menjadi fondasi upaya penyelamatan bisnis dan menekan beban tetap.
Di laporan keuangan 2025, Indofarma mencatat penjualan bersih sebesar Rp151,5 miliar. Perusahaan masih membukukan rugi, tetapi kerugian periode berjalan terpangkas 76,7% menjadi Rp77,9 miliar, dibandingkan rugi Rp334,5 miliar pada 2024.
Perbaikan itu didukung oleh penurunan beban umum dan administrasi sebesar 55,2%, efisiensi operasional lebih ketat, serta optimalisasi pendapatan lain-lain.
Sahat menyebut transformasi juga mengubah struktur organisasi secara mendasar. Dia menyatakan jumlah karyawan turun signifikan dari sekitar 525 orang pada 2024 menjadi kurang dari 100 orang saat ini.
“Tahun 2024 jumlah karyawan kami masih sekitar 525 orang. Saat ini jumlahnya sudah berada di bawah 100 orang. Jadi perusahaan menjadi jauh lebih efisien untuk dijalankan,”
Pengurangan personel itu bagian dari upaya membangun struktur biaya yang lebih sehat agar perusahaan memiliki ruang untuk tumbuh kembali.
Selain memangkas biaya, manajemen melakukan pengelolaan portofolio produk yang lebih selektif. Fokus diberikan pada produk dengan potensi pasar kuat, perputaran cepat, dan kontribusi positif terhadap arus kas untuk menghindari penumpukan persediaan.
“Kami melakukan refocusing business portfolio. Kami memilih produk-produk yang memang memiliki market yang baik. Kami tidak ingin menumpuk produk yang akhirnya menjadi beban persediaan. Fokus kami adalah mengelola cash flow dengan baik,”
Dari sisi neraca, defisiensi modal Indofarma turun dari Rp1,144 triliun menjadi Rp707 miliar. Selain itu, liabilitas jangka pendek berhasil ditekan hingga 58%, yang menunjukkan bahwa langkah restrukturisasi mulai berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan.
Ikuti Ihram.co.id
