Lonjakan investasi infrastruktur kecerdasan buatan membuat sejumlah perusahaan teknologi besar mulai menguras cadangan kas dan mengandalkan pasar obligasi untuk pendanaan. Perubahan ini memaksa investor teknologi mengikuti ketetapan kebijakan moneter The Federal Reserve.
Sebelumnya, megacap teknology relatif kebal terhadap kenaikan suku bunga karena memiliki bantalan kas kuat. Kini, kebutuhan pendanaan pembangunan pusat data dan perangkat keras mutakhir mengubah peta risiko: biaya pinjaman yang naik langsung memengaruhi strategi pendanaan perusahaan-perusahaan tersebut.
“Investor teknologi tidak terbiasa memantau suku bunga. Namun tiba-tiba saja, mereka kini harus mendengarkan pidato Ketua The Fed, memperhatikan statistik inflasi, dan melihat bagaimana pasar Obligasi Pemerintah AS meresponsnya,” ujar Peter Boockvar, Chief Investment Officer di One Point BFG Wealth Partners.
Indikasi Kenaikan Suku Bunga Picu Reaksi Pasar
Isyarat kenaikan suku bunga dari Kevin Warsh saat konferensi pers pertamanya sebagai Ketua The Fed memicu aksi jual di pasar saham. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat melonjak mendekati 4,45%.
Belanja Infrastruktur AI Capai Ratusan Miliar Dolar
Empat perusahaan hyperscalers—Amazon, Alphabet, Microsoft, dan Meta—diproyeksikan menggelontorkan dana gabungan hingga US$750 miliar tahun ini, naik lebih dari 80% dari tahun sebelumnya. Sebagian besar ekspansi itu didanai melalui instrumen utang.
Perusahaan seperti Nvidia, Oracle, Amazon, Alphabet, dan Meta aktif memasuki pasar obligasi dengan penerbitan bernilai puluhan miliar dolar. Tren serupa tampak pada perusahaan lain di ekosistem AI.
- OpenAI: CFO Sarah Friar menyebut kemampuan memanfaatkan pasar utang sebagai salah satu motif percepatan rencana IPO.
- SpaceX: Setelah debut di Nasdaq, bankir dilaporkan menyiapkan pertemuan dengan investor untuk penawaran obligasi minimal US$20 miliar.
“Para pemimpin sektor teknologi kini merangkul utang. Ini adalah formula yang sempurna bagi para pelaku industri AI yang merasa percaya diri dengan apa yang ingin mereka pinjam dan belanjakan,” kata Jeff Kilburg, CEO KKM Financial.
Arus Kas Bebas Menipis, Capex Melonjak
Cadangan kas banyak perusahaan mulai menyusut seiring lonjakan belanja modal. Goldman Sachs mencatat rasio capex terhadap arus kas berada di level tertinggi sejak era dot-com crash, dan memperkirakan capex sektor bisa mendekati US$920 miliar tahun ini.
Amazon diperkirakan menyiapkan capex sekitar US$200 miliar dan mungkin mencatat arus kas bebas negatif. Kondisi serupa membuat perusahaan teknologi belajar menghadapi dinamika industri padat modal.
“Arus kas bebas menjadi sangat fluktuatif, dan akses ke pasar utang maupun saham menjadi krusial untuk mendanai semuanya,” ujar Boockvar.
Namun, penerbitan utang tidak selalu bermakna buruk. Strategi ini dapat menjaga likuiditas internal untuk akuisisi dan memberikan fleksibilitas dalam pembiayaan proyek jangka panjang.
Jay Woods, Chief Market Strategist di Freedom Capital Markets, mengingatkan risiko utang sebaiknya dinilai per perusahaan. Nvidia, misalnya, tercatat memiliki arus kas bebas yang kuat—lebih dari US$48,5 miliar pada kuartal terakhir—memberi fleksibilitas di tengah kondisi makro yang ketat.
Perubahan Struktur Modal Industri Teknologi
Sekadar sebagai latar, saham teknologi tradisional dikategorikan sebagai aset growth-oriented dengan bantalan kas tebal, sehingga kurang bergantung pada pinjaman untuk operasi sehari-hari. Tetapi revolusi Generative AI sejak akhir 2022 mengubah kebutuhan modal industri ini.
AI menuntut daya komputasi sangat besar yang bergantung pada cip mutakhir dan pusat data hyperscale. Biaya pembangunan infrastruktur fisik yang mencapai ratusan miliar dolar mendorong perusahaan teknologi bertransformasi menjadi sektor yang sangat padat modal dan semakin bergantung pada pasar obligasi dan surat utang korporasi.
Pergeseran inilah yang mengaitkan kinerja saham-saham teknologi papan atas lebih erat dengan fluktuasi suku bunga The Fed dan pergerakan pasar obligasi global.
Ikuti Ihram.co.id
