Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap sentimen global dan domestik. Tekanan datang dari kekhawatiran atas prospek belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di AS, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, serta sikap wait and see investor terhadap data ekonomi dalam negeri.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menyebut volatilitas bursa global sepanjang pekan lalu turut menyeret pasar Indonesia. Menurutnya, sentimen negatif muncul setelah laporan penundaan penawaran umum perdana (IPO) OpenAI yang memicu aksi jual pada saham-saham teknologi global, termasuk emiten semikonduktor.
“Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menyusul laporan penundaan IPO OpenAI akibat volatilitas pasar yang langsung menyeret jatuh saham-saham cip utama seperti Micron, AMD, dan Intel, serta memicu aksi jual masif di bursa Asia dan Eropa termasuk koreksi harga komoditas logam,” ujar Brigita dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Brigita mencatat Nasdaq Composite terkoreksi hingga 4,6% sepanjang pekan 22-26 Juni 2026 setelah mengalami penurunan lima hari berturut-turut, sementara S&P 500 melemah hampir 2%. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average menguat sekitar 0,6% karena investor melakukan rotasi ke saham defensif seperti sektor kesehatan, konsumer primer, jasa keuangan, dan utilitas.
Walaupun beberapa indikator ekonomi AS menunjukkan perbaikan—termasuk sentimen konsumen dan inflasi—pasar tetap dibayangi ketidakpastian setelah pernyataan Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari tentang kemungkinan kenaikan suku bunga jika ketegangan geopolitik memicu tekanan inflasi.
Dari dalam negeri, Brigita menilai pelaku pasar cenderung hati-hati menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting akhir Juni hingga awal Juli 2026. Fokus investor antara lain pada data inflasi, neraca perdagangan, tingkat kepercayaan konsumen, serta arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan pertengahan Juli.
Pemerintah juga telah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun melalui delapan program insentif untuk menjaga daya beli dan menopang pertumbuhan pada semester II-2026. Selain itu, pemerintah menjalankan konsolidasi fiskal melalui efisiensi anggaran, termasuk penyesuaian alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghematan subsidi energi, dan sejumlah reformasi kebijakan.
“Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik,” jelas Brigita.
Analisis Teknikal: IHSG Masih Downtrend
Berdasarkan analisis teknikal IPOT, IHSG masih berada dalam tren penurunan jangka menengah meskipun sempat mengalami rebound dari level terendah. Struktur teknikal menurut Brigita belum menunjukkan pembalikan arah karena indeks masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek (MA5, MA10, dan MA20).
Indikator lain seperti pelemahan histogram MACD dan Stochastic RSI juga menunjukkan momentum penguatan mulai terbatas. IPOT memperkirakan IHSG berpeluang menguji area support 5.700-5.800 dalam waktu dekat.
“Konfirmasi pembalikan tren menjadi bullish baru akan terbentuk apabila IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452, sehingga setiap penguatan sebelum level tersebut tercapai masih dikategorikan sebagai relief rally,” ujar Brigita.
Rekomendasi Saham dan Instrumen
Di tengah kondisi pasar yang volatil, IPOT merekomendasikan investor melakukan trading secara selektif pada saham-saham berfundamental kuat.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk — BBRI: Area beli Rp 2.830–Rp 2.850, target harga Rp 3.030. Menurut Brigita, BBRI menunjukkan struktur teknikal solid setelah bertahan di atas EMA5 dan didukung indikator Live Action Done Indicator (LADI) yang mengindikasikan akumulasi. Data broker summary per 26 Juni 2026 juga mencatat aksi beli bersih investor asing sekitar Rp 75,1 miliar.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk — TLKM: Area beli Rp 2.480, target harga Rp 2.760. Saham ini dinilai mulai membentuk sinyal pembalikan arah setelah muncul pola candlestick hammer yang diperkuat bullish divergence pada MACD.
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk — AADI: Area beli Rp 8.050, target harga Rp 8.700. Saham ini dinilai berpeluang breakout setelah bertahan di atas EMA5.
Selain saham individual, Brigita menyarankan mempertimbangkan instrumen reksa dana berbasis indeks, Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Menurutnya, XIHD menawarkan strategi berbasis dividen melalui eksposur pada 20 saham dengan dividend yield tinggi dan fundamental relatif solid.
“Di tengah pasar yang masih berfluktuasi, XIHD dapat menjadi alternatif investasi bagi investor yang menginginkan kombinasi potensi pendapatan dividen yang stabil serta peluang capital gain tanpa harus melakukan stock picking secara individual. Dominasi sektor perbankan dalam portofolio XIHD juga berpotensi menopang kinerjanya apabila prospek suku bunga dan margin industri perbankan tetap terjaga,” tutup Brigita.
Ikuti Ihram.co.id
