PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk mengalami koreksi prospek setelah realisasi kinerja kuartal I-2026 yang lebih lemah dari ekspektasi analis. Perusahaan menghadapi tekanan pada segmen herbal dan makanan minuman, sementara unit farmasi masih mencatat pertumbuhan.
Kiwoom Sekuritas Indonesia merevisi estimasi kinerja Sido Muncul untuk 2026, menurunkan proyeksi pendapatan dan laba bersih sehingga memicu penyesuaian target harga saham.
Revisi Estimasi dan Alasan
Dalam risetnya, Kiwoom menilai pendapatan Sido Muncul pada 2026 akan mencapai Rp 4,14 triliun, atau tumbuh 1,5% secara tahunan. Sementara itu, proyeksi laba bersih dipangkas menjadi Rp 1,19 triliun, turun 2,6% year on year.
“Revisi tersebut mencerminkan permintaan domestik yang masih relatif lemah dan sikap distributor yang lebih berhati-hati dalam melakukan restocking atau pengisian kembali persediaan,” tulis Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo W.
Kinerja Kuartal I-2026
Pada kuartal I-2026, pendapatan Sido Muncul tercatat turun 18,8% secara tahunan, sedangkan laba bersih anjlok 36,8% yoy. Realisasi ini berada di bawah ekspektasi analis.
Azis menjelaskan faktor utama pelemahan adalah normalisasi persediaan distributor dan kenaikan biaya tenaga kerja. Segmen herbal dan F&B mengalami tekanan, sedangkan segmen farmasi tumbuh 26,2% yoy.
Implikasi Pada Rekomendasi dan Valuasi
Menanggapi kondisi tersebut, Kiwoom mempertahankan rekomendasi hold untuk saham Sido Muncul. Target harga saham diturunkan menjadi Rp 420 dari sebelumnya Rp 595.
Target harga baru mencerminkan valuasi forward P/E 2026 sebesar 10,5 kali dan PBV 3,9 kali menurut catatan analis.
Risiko Ke Depan
Kiwoom mencatat beberapa risiko yang dapat menekan prospek perusahaan, termasuk pelemahan daya beli masyarakat yang lebih dalam dari perkiraan, meningkatnya persaingan pasar, serta kenaikan biaya operasional yang dapat menggerus profitabilitas.
Ikuti Ihram.co.id
