Sepakbola

Kontroversi Usai Final Piala Super Spanyol: Mbappe Cegah Pemain Real Madrid Beri Guard of Honour ke Barcelona

Final Piala Super Spanyol 2026 tidak hanya meninggalkan kekecewaan bagi Real Madrid, tetapi juga memunculkan kontroversi baru di luar lapangan. Kekalahan dramatis 2-3 dari Barcelona dalam laga El Clasico membuat sorotan tertuju pada sikap para pemain Los Blancos setelah peluit panjang dibunyikan.

Barcelona memastikan gelar juara pertama mereka di tahun 2026 berkat kemenangan tipis yang sarat tensi. Raphinha menjadi bintang utama dengan torehan dua gol krusial yang mengantar Blaugrana mengangkat trofi. Namun, alih-alih diwarnai momen sportivitas, akhir pertandingan justru dipenuhi perbincangan soal absennya guard of honour dari kubu Real Madrid.

Keputusan tersebut dinilai tidak biasa, mengingat tradisi penghormatan kerap diberikan dalam laga final. Situasi ini kemudian dikaitkan dengan peran Kylian Mbappe, bintang anyar Madrid yang disebut-sebut berpengaruh besar terhadap sikap timnya.

Mbappe Disebut Ambil Peran di Balik Keputusan

Laporan dari jurnalis Spanyol Alfredo Martinez menyebut Kylian Mbappe menjadi figur sentral dalam keputusan Real Madrid untuk tidak memberikan guard of honour kepada Barcelona. Penyerang asal Prancis itu dikabarkan mengarahkan rekan-rekannya agar segera meninggalkan lapangan dan tidak berbaris memberi penghormatan kepada rival abadi mereka.

Mbappe sendiri baru masuk pada menit-menit akhir pertandingan. Kontribusinya di lapangan memang terbatas, namun gesturnya setelah laga justru memantik diskusi luas. Sebagai pemain yang dikenal bermental juara, sikap Mbappe dianggap mencerminkan keengganan Madrid untuk memberi pengakuan simbolis kepada Barcelona.

Di sisi lain, tidak semua elemen Real Madrid menunjukkan sikap serupa. Presiden klub Florentino Perez tetap menampilkan wajah sportif dengan menghampiri para pemain Barcelona dan memberikan ucapan selamat satu per satu setelah seremoni penyerahan trofi.

El Clasico yang Sarat Drama Sejak Awal

Pertandingan final berjalan intens sejak menit pertama. Barcelona membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-36 melalui Raphinha yang memaksimalkan umpan terukur dari Fermin Lopez. Gol tersebut meningkatkan kepercayaan diri skuad asuhan Hansi Flick.

Real Madrid tak tinggal diam. Vinicius Junior menyamakan kedudukan di menit 45+2 setelah memanfaatkan skema serangan cepat yang melibatkan Gonzalo Garcia. Namun, keunggulan Madrid hanya bertahan sesaat.

Robert Lewandowski kembali membawa Barcelona unggul dua menit kemudian. Striker asal Polandia itu mencetak gol berkelas, dengan sepakan yang sempat membentur tiang sebelum bersarang di gawang. Drama babak pertama belum usai, karena Gonzalo Garcia mencetak gol penyeimbang di menit 45+6, membuat skor 2-2 saat jeda.

Raphinha Jadi Penentu, Barcelona Tahan Tekanan

Memasuki babak kedua, tempo permainan sedikit menurun, namun intensitas tetap tinggi. Kedua tim berhati-hati, menyadari satu kesalahan bisa menentukan juara. Momen krusial akhirnya datang pada menit ke-73.

Raphinha kembali mencatatkan namanya di papan skor. Gol keduanya menjadi pembeda dalam laga ini, membawa Barcelona unggul 3-2. Real Madrid berusaha menekan di sisa waktu, namun rapatnya pertahanan Blaugrana membuat mereka frustrasi.

Situasi semakin dramatis ketika Frenkie de Jong diganjar kartu merah pada menit ke-91. Meski bermain dengan sepuluh pemain, Barcelona mampu menjaga keunggulan hingga akhir laga dan memastikan gelar Piala Super Spanyol 2026.

Kontroversi yang Menyisakan Perdebatan

Kemenangan Barcelona seharusnya menjadi sorotan utama, namun sikap Real Madrid pascalaga membuat narasi bergeser. Peran Mbappe dalam keputusan tidak memberi guard of honour menambah bumbu panas rivalitas El Clasico.

Bagi sebagian pihak, sikap tersebut dianggap wajar dalam rivalitas besar. Namun bagi yang lain, momen itu dinilai mencederai nilai sportivitas. Yang jelas, final Piala Super Spanyol 2026 tidak hanya dikenang karena gol-gol indah, tetapi juga karena kontroversi yang memperpanjang panasnya persaingan Real Madrid dan Barcelona.