Arsenal resmi memasuki fase paling menantang dalam perjalanan musim 2025/2026. Kemenangan meyakinkan 4-1 atas Portsmouth di Fratton Park pada putaran ketiga Piala FA, Minggu (11/1/2026) malam WIB, bukan sekadar tiket ke babak berikutnya. Laga tersebut menjadi pembuka dari rangkaian jadwal padat yang berpotensi mencatatkan sejarah baru bagi klub London utara.
Dalam rentang sepuluh hari, Arsenal dijadwalkan melakoni empat pertandingan tandang di empat kompetisi berbeda: Piala FA, Carabao Cup, Liga Inggris, dan Liga Champions. Situasi ini belum pernah dialami klub mana pun sebelumnya dan menjadi ujian nyata bagi kedalaman skuad serta kematangan Arsenal di era Mikel Arteta.
Momentum Positif di Tengah Ambisi Besar
Datang ke Fratton Park dengan status pemuncak klasemen Liga Inggris, Arsenal menunjukkan mentalitas tim besar. Meski sempat mendapat tekanan dari tuan rumah, The Gunners tetap tampil dominan dan efisien hingga menutup laga dengan kemenangan telak.
Hasil tersebut memperpanjang momentum positif Arsenal di semua ajang. Sejak terakhir kali mengangkat trofi pada Piala FA 2019/2020, Arsenal memang belum kembali merasakan gelar juara. Namun, grafik performa mereka terus menanjak, menjadikan musim ini sebagai peluang paling realistis untuk mengakhiri penantian panjang tersebut.
Empat Laga, Empat Tantangan Berbeda
Setelah menyelesaikan tugas di Piala FA, Arsenal langsung dihadapkan pada duel panas di semifinal Carabao Cup. Mereka akan bertandang ke Stamford Bridge untuk menghadapi Chelsea asuhan Liam Rosenior pada Rabu (14/1/2026) atau Kamis dini hari WIB.
Tak ada waktu untuk bernapas panjang. Tiga hari berselang, Arsenal kembali harus menjalani laga tandang di Liga Inggris. Nottingham Forest akan menjadi tuan rumah di City Ground, sebuah stadion yang kerap menyulitkan tim-tim besar.
Rangkaian laga berat itu ditutup dengan perjalanan ke Italia. Arsenal dijadwalkan menantang Inter Milan di San Siro pada laga fase liga Liga Champions, Selasa (20/1/2026) atau Rabu dini hari WIB. Meski sudah memastikan lolos ke babak 16 besar, laga ini tetap krusial untuk menjaga momentum dan posisi di klasemen fase liga.
Ujian Kedalaman Skuad dan Strategi Arteta
Padatnya jadwal membuat Mikel Arteta dituntut jeli mengatur rotasi. Beban fisik dan mental pemain menjadi faktor yang tak bisa diabaikan, terlebih Arsenal masih menyimpan ambisi besar di semua kompetisi.
Arteta menyadari bahwa periode ini bukan hanya soal taktik, tetapi juga manajemen sumber daya. Ia ingin seluruh pemain tetap terlibat, menjaga intensitas permainan, dan tetap kompetitif di setiap laga.
Rotasi diperkirakan akan dilakukan, terutama pada laga-laga tertentu, demi menjaga kebugaran pemain kunci seperti Bukayo Saka, Martin Ødegaard, dan Declan Rice. Keputusan Arteta dalam menyusun komposisi tim di empat laga ini bisa berdampak langsung pada nasib Arsenal di akhir musim.
Penentu Arah Musim Arsenal
Setelah melewati rangkaian empat laga tandang tersebut, Arsenal baru akan kembali ke Emirates Stadium untuk menjamu Manchester United pada Minggu (25/1/2026). Artinya, sepuluh hari ke depan bisa menjadi periode paling menentukan dalam musim mereka.
Jika mampu melewati fase ini dengan hasil positif, Arsenal bukan hanya menjaga peluang juara di berbagai kompetisi, tetapi juga menciptakan catatan bersejarah yang menegaskan status mereka sebagai kekuatan elite Eropa. Namun, satu hasil buruk saja bisa mengubah segalanya. Periode ekstrem ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana Arsenal siap mengakhiri dahaga trofi yang telah berlangsung bertahun-tahun.






