PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan laba bersih bank only sebesar Rp4,9 triliun pada Mei 2026, turun 2% secara tahunan namun naik 1% dibanding April 2026.
Akibatnya, realisasi laba bersih bank only BBCA sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai Rp25,7 triliun, atau setara 42,4% dari estimasi konsensus untuk laba bersih konsolidasi 2026, menurut catatan Stockbit Sekuritas.
Kontribusi Pendapatan dan PPOP
Pertumbuhan laba bersih BBCA selama periode tersebut didorong oleh kenaikan pre-provision operating profit (PPOP) sebesar 2% year on year (yoy). Kenaikan PPOP terutama ditopang oleh pertumbuhan non-interest income sebesar 9% yoy.
Sementara itu, pendapatan bunga bersih atau net interest income cenderung datar, turun 1% yoy. Kondisi ini terjadi di tengah pertumbuhan kredit yang moderat sebesar 5% yoy per Mei 2026, yang menekan margin.
Rekomendasi Analis dan Target Harga
BRI Danareksa Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor perbankan menjadi overweight dari sebelumnya netral. Dalam risetnya, analis menyatakan saham BBCA menjadi pilihan utama.
Analisa tersebut menyebutkan BBCA dan Bank BTPN Syariah (BTPS) memiliki kombinasi menarik berupa return on assets (ROA) yang kuat serta tingkat leverage relatif rendah, sehingga lebih mampu menahan tekanan jika terjadi kenaikan biaya kredit (cost of credit/CoC).
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp10.900. Untuk BTPS, rekomendasi buy dengan target harga Rp1.400.
Risiko
Riset menyebutkan risiko utama yang perlu diwaspadai adalah penurunan kualitas aset dan kredit secara signifikan serta tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang lebih besar dari perkiraan.
Ikuti Ihram.co.id
