Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan negara-negara Teluk menolak keras setiap upaya mengenakan tarif atau biaya atas penggunaan Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan delegasi regional di Bahrain, Jumat (26/6/2026).

Menurut Rubio, tidak ada dukungan dari negara-negara Teluk terhadap “bentuk tarif, biaya, atau apa pun yang memungut bayaran atas penggunaan perairan internasional.” Ia menyebut pembicaraan dengan para pemimpin Teluk berlangsung sangat baik dan berfokus pada kekhawatiran serta gagasan konkret untuk dibawa ke meja perundingan dengan Iran, baik di tingkat teknis maupun politik.

Rubio menegaskan Amerika Serikat menginginkan keterlibatan aktif negara-negara Teluk dalam proses itu dan memastikan pemerintah AS tidak akan mengambil keputusan yang merugikan kemakmuran, stabilitas, maupun keamanan mitra kawasan di Teluk.

Ia juga membantah adanya pembahasan mengenai paket rekonstruksi senilai US$300 miliar untuk Iran dalam pertemuan tersebut. Menurut Rubio, pembahasan soal dana itu masih terlalu dini dan baru akan dibahas pada waktu yang tepat.

Babak Baru Dialog Israel-Lebanon

Selain isu Selat Hormuz, Rubio memberi pembaruan mengenai negosiasi antara Israel dan Lebanon. Ia berharap kedua pihak segera mencapai kesepakatan tertulis yang mencerminkan masa depan yang lebih menjanjikan bagi kawasan.

“Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, pemerintah berdaulat Lebanon bersedia berbicara langsung dengan pemerintah Israel,” kata Rubio, seraya mengakui proses itu membutuhkan waktu dan kerja keras.

Signifikansi Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat sempit antara Oman dan Iran itu.

Kawasan tersebut beberapa tahun terakhir sering menjadi sumber ketegangan geopolitik. Ancaman penutupan atau pembatasan akses oleh Iran, sebagai respons terhadap sanksi, dianggap berisiko mengganggu rantai pasok energi global dan memicu kenaikan harga minyak. Penolakan tegas dari negara-negara Teluk dan dukungan AS dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi internasional.