Harga minyak dunia jatuh tajam pada perdagangan Selasa (16/6/2026) waktu AS, dengan komoditas acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 5% untuk hari kedua berturut-turut dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan.

Penurunan terjadi setelah beredarnya rincian kesepakatan sementara yang disebut-sebut dapat mengakhiri konfrontasi antara AS dan Iran di Timur Tengah, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz serta izin bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar internasional.

Harga minyak Brent ditutup turun US$ 4,21 atau 5,1% ke US$ 78,96 per barel. Sementara itu, WTI anjlok US$ 4,70 atau 5,8% menjadi US$ 76,05 per barel. Level penutupan tersebut merupakan yang terendah sejak awal Maret.

Reaksi Pasar dan Alasan Penurunan

Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menyatakan pasar bereaksi terhadap asumsi bahwa Selat Hormuz akan kembali beroperasi normal. “Minyak mentah turun cepat karena pasar memperkirakan Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” katanya.

Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur pelayaran strategis tersebut, sehingga sinyal pembukaan kembali memengaruhi ekspektasi pasokan global.

Rincian Kesepakatan

Pihak AS menyebut kesepakatan sementara itu mencakup komitmen pencegahan pengembangan senjata nuklir oleh Iran dan izin bagi Teheran untuk melanjutkan penjualan minyak setelah perjanjian resmi ditandatangani. Kesepakatan juga memperpanjang gencatan senjata sebelumnya selama 60 hari tambahan dan membuka kembali Selat Hormuz yang sempat terganggu.

Keraguan dan Hambatan

Sejumlah analis menilai masih ada tantangan besar sebelum kesepakatan berjalan efektif. Pemulihan aktivitas pelayaran dan ekspor energi diperkirakan membutuhkan beberapa pekan.

Kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran menyatakan keyakinan bahwa Teheran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final sebelum Israel menarik pasukannya dari Lebanon.

Analis dari Ritterbusch and Associates menilai pasar terlalu optimistis terhadap keberhasilan rencana perdamaian tersebut. Mereka mencatat masih ada persoalan rumit seperti kompensasi finansial, sanksi ekonomi, dan penyelesaian isu nuklir yang menjadi akar konflik.

Faktor Lain yang Menekan Harga

Selain perkembangan di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan inflasi global yang masih tinggi turut membebani harga. Data menunjukkan aktivitas pengolahan minyak mentah China pada Mei turun 9,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebagai level terendah hampir empat tahun.

Pasar juga menilai kemungkinan penyelesaian konflik lain dapat membuka peluang peningkatan pasokan. Presiden AS mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina, peristiwa yang dinilai berpotensi memicu pelonggaran sanksi dan peningkatan ekspor minyak Rusia jika tercapai penyelesaian.

Agenda Pelaku Pasar

Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Analis memperkirakan perusahaan energi AS menarik sekitar 4,6 juta barel minyak mentah dari penyimpanan pada pekan yang berakhir 12 Juni.

Jika perkiraan itu benar, maka akan menjadi penurunan stok minyak selama delapan pekan berturut-turut, tren terpanjang sejak Januari 2025.