Harga minyak global kembali turun tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat, dengan Brent mencatat level terendah sejak akhir Februari. Meredanya kekhawatiran soal gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama penurunan.

Penutupan pasar mencatat Brent ambles US$ 3,34 atau 4,3% ke US$ 73,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terpangkas US$ 2,87 atau 3,9% menjadi US$ 70,34 per barel.

Pergerakan Pasar dan Arus Pengiriman

Sepanjang sesi, Brent sempat menyentuh US$ 73,12 per barel—level terendah sejak 27 Februari 2026, sehari sebelum serangan udara AS dan Israel terhadap Iran. WTI juga sempat turun di bawah US$ 70 per barel untuk pertama kali sejak awal Maret.

Pasar merespons perlambatan risiko gangguan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai mendekati kondisi normal. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak mentah tercatat melewati jalur tersebut, didukung pengawalan militer terhadap tanker yang sebelumnya sempat tertahan.

Data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker yang membawa sekitar 5 juta barel minyak mentah mulai keluar dari Selat Hormuz pada Rabu. Dua kapal dilaporkan menuju Asia.

Pengaruh Kebijakan dan Dampak Pasokan

Tekanan tambahan muncul setelah AS mengizinkan kembali penjualan minyak Iran sebagai bagian dari upaya mendorong kesepakatan damai yang lebih permanen dengan Teheran. Izin tersebut membuka peluang peningkatan pasokan global dalam waktu relatif singkat.

Analis KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pelonggaran sanksi terhadap Iran berpotensi mempercepat produksi dan ekspor dalam hitungan pekan, bukan bulan.

“Jika sanksi benar-benar dilonggarkan, Iran memiliki cadangan minyak yang cukup besar di kapal tanker sehingga ekspor dapat meningkat dengan cepat,”

Analis ING juga menilai meningkatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai sinyal positif bagi pasar energi, meski volume pelayaran masih di bawah level sebelum konflik.

Pembentukan diskon pada kargo minyak fisik di beberapa kawasan turut menekan harga, seiring membanjirnya pasokan dari Timur Tengah. Struktur pasar Brent berubah, dengan harga kontrak pengiriman bulan kedua kini lebih tinggi dibanding kontrak pengiriman terdekat, mencerminkan keringanan pasokan jangka pendek.

Variabel Lain dan Data Cadangan

Ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu, namun pemerintah Iran membantah memberikan komitmen tersebut.

Di tengah tekanan harga, persediaan minyak AS justru menunjukkan penurunan signifikan. Data Energy Information Administration (EIA) mencatat total stok minyak AS, termasuk cadangan strategis pemerintah, turun 15,1 juta barel menjadi 743,3 juta barel pada pekan yang berakhir 19 Juni—level terendah sejak 1984.

JP Morgan menurunkan proyeksi harga Brent untuk semester II-2026, menyebut perkiraan permintaan yang lebih lemah dan penurunan persediaan global yang tidak sebesar ekspektasi. Bank investasi itu kini memperkirakan rata-rata harga Brent berada di kisaran US$ 86 per barel pada kuartal III dan US$ 80 per barel pada kuartal IV 2026.