Proyeksi laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) untuk 2026 direvisi turun menyusul perkiraan meningkatnya tekanan biaya pada kuartal II-2026. Penyesuaian ini terutama terkait lonjakan harga gandum, minyak nabati, bahan bakar, kemasan, biaya logistik, serta volatilitas nilai tukar.
Analisis dari MNC Sekuritas menyebutkan revisi sebesar 7,2% pada estimasi laba bersih 2026 untuk mencerminkan risiko biaya tersebut. Meski pendapatan kuartal I-2026 masih menunjukkan ketahanan, margin segmen produk konsumen bermerek diperkirakan akan mengecil ketika tekanan biaya meluas.
Menurut MNC Sekuritas, eksposur tinggi segmen consumer branded products (CBP) terhadap tepung terigu, minyak goreng, kemasan, dan bahan baku impor membuat margin segmen ini rentan terhadap kenaikan biaya. “Kami merevisi turun proyeksi laba bersih INDF pada 2026 sebesar 7,2% untuk mengakomodasi tekanan biaya, terutama akibat kenaikan harga gandum, minyak nabati, bahan bakar, kemasan, biaya logistik, serta volatilitas nilai tukar,” kata analis Catherine Florencia M dalam risetnya.
Di sisi permintaan, MNC Sekuritas mencatat adanya dukungan terbatas dari penyaluran bantuan pangan non-tunai (BPNT) pada kuartal II-2026 serta potensi stimulus pemerintah pada kuartal III-2026. Jika stimulus itu berbentuk bantuan tunai, dampaknya diperkirakan dapat lebih cepat mendorong daya beli rumah tangga dan menambah volume penjualan untuk produk kebutuhan pokok yang diproduksi oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), anak usaha INDF.
Namun, analis memperingatkan bahwa dukungan tersebut kemungkinan belum mampu sepenuhnya menutup tekanan biaya dan risiko nilai tukar yang masih berlanjut. “Meski demikian, dukungan tersebut diperkirakan belum cukup untuk sepenuhnya mengimbangi tekanan biaya dan risiko nilai tukar yang masih berlanjut,” tambah Catherine.
Target Harga Saham
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham INDF, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp7.800 per saham. Target ini mencerminkan valuasi estimasi dengan PE 2026 sebesar 6,2 kali dan PBV 0,9 kali, serta PE 2027 sebesar 6 kali dan PBV 0,8 kali.
Pada kuartal I-2026, INDF melaporkan pendapatan sebesar Rp33,9 triliun, naik 4,2% secara kuartal ke kuartal (qoq) dan 7,4% secara tahunan (yoy). Realisasi pendapatan itu setara 26% dari estimasi MNC Sekuritas dan 26,2% dari estimasi konsensus untuk 2026.
Laba bersih INDF pada periode tersebut tumbuh 5,5% qoq atau 8,6% yoy menjadi Rp3 triliun. Angka itu setara 24,6% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 24,9% dari proyeksi konsensus untuk 2026.
Jika mengecualikan dampak selisih kurs dan pos-pos non-recurring, laba inti INDF relatif stagnan pada Rp3,3 triliun, hanya meningkat 0,9% yoy.
Ikuti Ihram.co.id
