Morgan Stanley tetap melihat prospek jangka panjang positif untuk harga emas, termasuk kemungkinan mencapai level US$5.200 per ons troi pada 2026. Namun, rumah investasi itu menegaskan target tersebut tidak mudah tercapai tanpa dukungan kuat dari arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) emas.
Dalam catatan riset yang dirilis baru-baru ini, analis komoditas Morgan Stanley menyatakan pergerakan harga emas sangat bergantung pada dinamika arus dana ETF, ekspektasi suku bunga, dan imbal hasil riil di Amerika Serikat.
Pergerakan Harga Terbaru
Pada saat laporan dibuat, harga emas tercatat menguat tipis 0,03% ke level US$4.192,92 per ons troi. Pada perdagangan Senin (22/6/2026), harga emas spot ditutup naik 0,75% menjadi US$4.191,43 per ons troi setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak 11 Juni.
Peran ETF dan Kebijakan The Fed
Morgan Stanley menjelaskan bahwa pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap berlangsung. Namun, mereka menilai faktor penentu utama untuk mendorong harga ke level lebih tinggi adalah kembalinya minat investor melalui ETF.
“Komponen yang hilang adalah permintaan ETF, yang kemungkinan tetap sensitif terhadap jalur The Fed, real yield, dan dolar,” tulis analis Morgan Stanley dalam riset tersebut.
Bank investasi itu juga menyorot sikap hawkish The Fed belakangan ini, yang menurut mereka telah meningkatkan ekspektasi suku bunga bertahan lebih lama pada level tinggi. Kenaikan imbal hasil riil obligasi AS disebut turut menekan minat terhadap emas, sehingga memicu arus keluar dari ETF emas dalam beberapa bulan terakhir.
Prospek Dan Peringatan
Meski demikian, Morgan Stanley tetap mempertahankan pandangan bullish jangka panjang untuk emas, dengan menyebut kondisi geopolitik dan ketidakpastian kebijakan global sebagai faktor pendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Mereka memperingatkan bahwa tanpa perubahan signifikan pada arah kebijakan moneter atau pemulihan arus masuk ETF, reli menuju target US$5.200 per ons troi akan menghadapi hambatan berat.
Ikuti Ihram.co.id
