Penutupan jalur selat yang menghubungkan produsen Timur Tengah dengan pasar global mendorong negara-negara importir mempercepat perluasan cadangan minyak dan gas strategis. Langkah tersebut diambil sebagai upaya membangun bantalan energi domestik setelah gangguan pasokan besar-besaran.

Periode blokade yang berlangsung beberapa bulan lalu memutus hingga seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, mengerek harga minyak Brent hampir menyentuh US$ 120 per barel. Pemakaian cadangan darurat dinilai membantu meredam tekanan pasar.

Langkah Kolektif Dan Peran Cadangan Darurat

Salah satu respons global adalah pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara anggota badan energi internasional, yang mencapai total 400 juta barel. Selain itu, strategi mandiri beberapa negara—termasuk penggunaan cadangan besar milik sebuah negara di Asia—membantu mengurangi pembelian minyak selama periode krisis.

Negara di Asia yang memiliki cadangan besar sempat mengurangi pembelian minyak sampai sepertiga selama konflik, memanfaatkan stok untuk menekan pengeluaran dan menjaga pasokan energi dalam negeri.

Dampak Pada Negara-Negara Rentan

Beberapa negara mengalami dampak lebih berat karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga dunia, saat ini hanya mampu bertahan sekitar delapan hari dengan cadangan yang ada.

Untuk memenuhi standar 90 hari impor sebagaimana berlaku di beberapa badan internasional, India diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 400 juta barel. Sebagai langkah awal, ada instruksi kepada Oil and Natural Gas Corporation untuk membangun cadangan baru sebesar 13 juta barel.

Pakistan, yang sebelum konflik mengandalkan sebagian besar pasokannya dari Timur Tengah, berencana menambah kapasitas penyimpanan domestik hingga 35 juta barel. Negara-negara lain turut menyiapkan langkah serupa.

Inisiatif Di Australia, Singapura, Eropa, Dan Perusahaan Minyak

Australia menyiapkan dana sekitar US$ 7 miliar untuk mengamankan minimal 50 hari pasokan bahan bakar. Sementara Singapura tengah mengkaji perluasan wilayah penyimpanan gas dan minyak.

Di kawasan lain, beberapa negara Eropa mulai mempertimbangkan penyimpanan gas yang dikontrol ketat pemerintah setelah ketergantungan terhadap impor LNG meningkat. Perusahaan minyak besar juga memperluas fasilitas penyimpanan di luar wilayah Arab, termasuk di negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, untuk meningkatkan fleksibilitas ekspor saat terjadi gangguan.

Potensi Permintaan Tambahan Dan Pengisian Kembali Cadangan

Berdasarkan perhitungan tim analis, ambisi penimbunan global diperkirakan membutuhkan sekitar 500 juta barel minyak mentah dan produk turunannya untuk mengisi tangki baru. Selain itu, dunia harus mengembalikan sekitar 400 juta barel cadangan yang terkuras selama konflik.

Gabungan kebutuhan pengisian baru dan pengisian ulang menghasilkan total sekitar 1 miliar barel. Proses ini diperkirakan akan berlangsung bertahap selama beberapa tahun dan diperkirakan akan menopang harga minyak mentah global agar tidak turun tajam.

Peran Strategis Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur laut sempit selebar sekitar 39 kilometer, menjadi titik transit utama karena menghubungkan produsen minyak besar di Timur Tengah dengan pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Setiap hari, lebih dari 20% konsumsi minyak dunia dan sebagian besar pengiriman LNG dari Qatar melintasi selat ini.

Blokade total selama tiga bulan menegaskan kerentanan rantai pasok minyak global dan mendorong upaya negara-negara importir untuk membangun cadangan domestik sebagai penyangga stabilitas nasional.