Pemadaman listrik oleh PT PLN yang terjadi di beberapa daerah berdampak langsung pada sektor industri, khususnya manufaktur. Gangguan pasokan dianggap menyebabkan kerugian operasional, menunda pengiriman barang, dan mengganggu rantai pasok nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah, Erwin Aksa, menyatakan Jawa—sebagai pusat aktivitas industri, manufaktur, perdagangan, dan jasa—merasa langsung terdampak ketika pasokan listrik terganggu. Menurutnya, pemadaman membuat perusahaan kehilangan jam produksi dan meningkatkan biaya karena ketergantungan pada genset dan sumber energi cadangan.
Dampak Pada Berbagai Sektor
Erwin menyebutkan sektor yang paling terpukul antara lain manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, logistik, pusat data, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia juga menerima keluhan dari pelaku usaha mengenai terganggunya operasional dan mengatakan Kadin akan mengumpulkan data dari berbagai daerah sebelum menghitung kerugian nasional.
Kerugian muncul tidak hanya dari berhentinya produksi, tetapi juga dari keterlambatan pengiriman, penurunan produktivitas, dan lonjakan biaya operasional. “Pada industri tertentu yang beroperasi secara kontinu, setiap jam penghentian produksi dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar,” ujar Erwin.
Risiko Penurunan Utilisasi
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, memperingatkan gangguan listrik berpotensi menurunkan utilisasi pabrik, mengganggu pasokan barang jadi, dan berdampak pada daya beli masyarakat. Ia menekankan industri plastik sangat bergantung pada listrik karena banyak pabrik beroperasi 24 jam nonstop.
Fajar memaparkan dampak terparah terjadi jika pemadaman menyasar pelanggan tegangan menengah dan tinggi—yang mayoritas adalah pabrik dengan produksi berkelanjutan. “Industri yang menggunakan tegangan menengah dan tegangan tinggi rata-rata beroperasi 24 jam non-stop. Kalau sampai terkena pemadaman, untuk memulai operasional kembali bisa membutuhkan waktu antara tiga sampai tujuh hari. Opportunity loss-nya sangat tinggi,” kata dia.
Untuk industri hulu yang memakai tegangan tinggi, Fajar menyebut saat ini relatif aman dari jadwal pemadaman tetapi berharap kondisi itu tetap terjaga. Ia juga mengatakan listrik merupakan komponen biaya terbesar kedua dalam industri plastik setelah bahan baku, sehingga gangguan langsung memengaruhi efisiensi operasional.
Kerentanan UKM dan Limbah Produksi
Kelompok usaha kecil dan menengah yang menggunakan tegangan rendah disebut paling rentan. Fajar memperkirakan UKM membutuhkan waktu dua hingga enam jam untuk memulai kembali produksi setelah listrik padam. Kondisi ini sering memaksa perusahaan membuang barang setengah jadi sehingga menimbulkan pemborosan bahan baku.
Ia menambahkan, jika gangguan berkepanjangan, pasokan barang jadi ke pasar akan terganggu karena kapasitas produksi menurun. Tren kenaikan utilisasi yang mulai terlihat berisiko kembali turun, dan dampaknya ke daya beli masyarakat serta pertumbuhan ekonomi perlu diwaspadai.
Seruan Evaluasi dan Mitigasi
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, meminta pemerintah segera mencari solusi dan memperkuat keandalan sistem kelistrikan melalui evaluasi cadangan daya, pembangkit, jaringan transmisi dan distribusi, pasokan energi primer, serta mekanisme mitigasi saat terjadi gangguan.
Shinta menekankan pemberitahuan dini, kanal komunikasi yang jelas, dan respons cepat diperlukan agar pelaku usaha dapat menyesuaikan jadwal produksi, mengamankan bahan baku, mengatur tenaga kerja, dan meminimalkan kerugian operasional.
Langkah Perbaikan yang Diharapkan
Erwin menilai ketahanan energi perlu ditingkatkan tidak hanya dari ketersediaan bahan bakar tetapi juga dari keandalan rantai pasok, cadangan yang cukup, kesiapan pembangkit, serta kekuatan jaringan transmisi dan distribusi. Ia mendesak evaluasi menyeluruh terhadap akar masalah dan langkah perbaikan yang cepat serta terukur.
Beberapa langkah strategis yang disebutkan meliputi memperkuat pasokan energi primer, menambah cadangan operasional, memodernisasi pembangkit dan jaringan transmisi, serta membangun sistem mitigasi risiko yang lebih baik. Erwin juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada masyarakat dan pelaku usaha agar antisipasi dapat dilakukan ketika potensi gangguan muncul.
Fajar menambahkan harapan agar pemerintah dan PLN segera melakukan mitigasi serta memperbaiki akar persoalan. Ia menilai skema kompensasi yang saat ini diberikan kepada pelanggan industri belum memadai dibandingkan kerugian yang ditanggung.
Erwin menegaskan keandalan sistem kelistrikan bukan hanya soal kelangsungan produksi, tetapi juga faktor penting dalam menjaga daya saing dan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Ikuti Ihram.co.id
