Harga beras dan gabah di tingkat petani stabil pada level tinggi seiring menurunnya produksi padi. Kondisi ini memicu seruan dari pelaku usaha agar pemerintah segera melepas cadangan beras untuk menahan laju harga.
Menurut pelaku usaha penggilingan, pola panen yang mulai turun pada Mei menjadi salah satu pemicu naiknya harga gabah. Saat pasokan merosot, persaingan pembelian antara pedagang, penggilingan, dan institusi penyangga makin ketat sehingga mendorong kenaikan harga.
Sutarto Alimoeso, Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), mengatakan, “Kalau kita cek ke lapangan, memang harganya (gabah) naik. Karena apa? Semua pasti tahu, pola panen kita kalau mulai Mei itu turun. Kondisi tersebut sudah pola yang selama ini terjadi, salah satu pasti itu (penyebab harga gabah naik), itu yang harus jadi catatan.”
Sutarto menjelaskan contoh perhitungan harga: bila gabah kering panen (GKP) di sawah Rp7.000 per kilogram, harga sampai di penggilingan minimal Rp7.200 per kilogram setelah ditambah biaya transportasi.
Data Stok Dan Harga
Pada pertemuan koordinasi pengendalian inflasi daerah, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian melaporkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Meski demikian, rerata harga GKP di tingkat petani per 19 Juni 2026 tercatat Rp6.840 per kilogram, lebih tinggi 5,24% dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram.
Data pengiriman mencakup 25 provinsi: 19 provinsi melaporkan harga di atas HPP, empat sama dengan HPP, dan dua provinsi di bawah HPP. Harga gabah tertinggi dilaporkan Rp8.000 per kilogram di Kalimantan Tengah dan terendah Rp6.440 per kilogram di Sulawesi Barat.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat menyatakan, sebagai solusi jangka pendek daerah diminta mengawal dan mendampingi pertanaman padi. Untuk solusi menengah hingga panjang, optimalisasi CBP menjadi opsi yang disorot.
Penyaluran CBP Dan SPHP
Pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, mengemukakan kenaikan harga beras berkaitan langsung dengan kenaikan harga gabah. Ia mencatat sulit ditemukan gabah sesuai HPP untuk semua kualitas, seiring kenaikan harga di sejumlah daerah hingga Rp7.500–8.000 per kilogram.
Khudori merujuk data produksi: menurut Badan Pusat Statistik, produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni 2026 sebesar 4,05 juta ton, turun sekitar 18% dari Mei 2026 yang 4,94 juta ton GKG. Produksi diperkirakan naik kembali pada Juli 2026 menjadi 4,76 juta ton GKG, namun masih jauh di bawah puncak panen Maret 2026 sekitar 8,71 juta ton.
Ia mengatakan, ketika produksi melandai tapi penyerapan masih tinggi, harga gabah berpotensi terus naik. Salah satu faktor penyerapan adalah target serapan Bulog tahun ini sebesar 4 juta ton setara beras. Penjualan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga tercatat menurun; pada periode Maret–20 Juni 2026 realisasi penjualan SPHP hanya 361.667 ton atau rata-rata 3.229 ton per hari, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Khudori menegaskan perlunya mengeluarkan stok CBP dan memperbanyak penyaluran SPHP agar stok beras tidak susut volume, menurunkan mutu, atau mengalami kerusakan, serta untuk mengurangi beban biaya penyimpanan. “Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi, yakni harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi,” ujarnya.
Ikuti Ihram.co.id
