Isu kenaikan harga gas industri kembali menjadi sorotan karena dikaitkan dengan melemahnya daya saing pabrik dan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, sejumlah pengamat menegaskan persoalan yang dihadapi sektor industri lebih kompleks dan tidak cukup dijelaskan hanya oleh kenaikan biaya energi.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menyatakan potensi PHK dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk melemahnya daya beli masyarakat, turunnya permintaan barang, penurunan produksi, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta meningkatnya biaya bahan baku impor.
“Dengan demikian, kenaikan harga gas maupun bahan bakar industri bukan menjadi satu-satunya penyebab tekanan terhadap dunia usaha,” ujar Said Iqbal dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Said Iqbal juga menegaskan bahwa angka 55 ribu yang ramai diperbincangkan bukan merupakan jumlah PHK yang telah terjadi. Menurutnya, angka itu merujuk pada potensi pekerja terdampak yang masih memerlukan proses verifikasi, termasuk pekerja dari perusahaan yang telah berhenti beroperasi dan belum dipastikan akan kembali berproduksi.
Daya Saing Ditentukan Banyak Faktor
Kajian ReforMiner Institute menunjukkan daya saing industri nasional ditentukan oleh beragam aspek, seperti strategi bisnis, permintaan pasar, ketersediaan bahan baku, produktivitas, efisiensi, teknologi, logistik, nilai tukar, hingga akses pasar. Dalam kerangka itu, harga gas hanya salah satu komponen struktur biaya produksi.
Mengutip data Badan Pusat Statistik yang dikaji ReforMiner Institute, porsi biaya energi—termasuk gas, listrik, dan pelumas—hanya sekitar 6,35% dari total biaya input industri. Sebaliknya, biaya bahan baku dan bahan penolong mencapai antara 64,60% hingga 96,76%, tergantung karakteristik sektor.
Karena komposisi biaya tersebut, perbaikan daya saing menurut kajian itu memerlukan langkah yang lebih komprehensif. Selain menjaga harga energi tetap kompetitif, pemerintah diminta memperkuat produktivitas industri, memperbaiki efisiensi rantai pasok, menjaga stabilitas nilai tukar, serta mendorong peningkatan permintaan domestik.
Dinamika Pasar Energi Global
Ekonom energi INDEF Abra Talattov mengingatkan bahwa kenaikan harga gas alam cair (LNG) terkait dinamika pasar energi global. Menurutnya, harga LNG dipengaruhi kondisi geopolitik, pergerakan harga energi dunia, nilai tukar, serta struktur rantai pasok yang berbeda antara LNG dan gas pipa.
Abra menilai pembahasan mengenai harga LNG maupun gas industri sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, dari sisi hulu hingga hilir. Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan solusi yang menjaga keseimbangan antara keberlanjutan pasokan energi, daya saing industri, dan perlindungan terhadap tenaga kerja.
Sejumlah pihak menilai pemerintah perlu terus menjaga keterjangkauan harga energi bagi sektor industri. Namun, penyelesaian persoalan daya saing nasional menurut berbagai kajian tidak cukup fokus hanya pada harga gas, melainkan harus disertai pembenahan faktor-faktor fundamental yang memengaruhi kinerja industri secara keseluruhan.
Ikuti Ihram.co.id
