Gaji yang masuk setiap bulan bagi banyak keluarga kelas menengah tak lagi terasa lega. Uang itu seringkali hanya mampir sejenak di rekening sebelum teralokasi untuk cicilan, pendidikan anak, dukungan kepada orang tua, dan kebutuhan rumah tangga.

Situasi ini menggambarkan realitas generasi “sandwich”—pekerja formal yang berada di tengah beban membiayai keluarga inti sekaligus membantu keluarga besar. Secara tampilan, mereka tampak mapan; secara nyata, mereka melakukan penyeimbangan finansial kompleks setiap bulan agar tidak tergelincir.

Tekanan yang dihadapi kelompok ini meningkat dibanding beberapa tahun terakhir. Di satu sisi ada stagnasi upah riil dan ancaman PHK di sejumlah sektor. Di sisi lain, biaya pendidikan, kesehatan, pangan, dan transportasi terus naik, sementara penyesuaian kebijakan fiskal dan wacana iuran baru turut mengikis daya beli.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pergeseran jutaan penduduk dari kelas menengah ke kelompok menengah-bawah dalam lima tahun terakhir. Kelompok ini kerap berada di zona abu-abu kebijakan: dianggap terlalu mampu untuk menerima bantuan sosial, namun terlalu rentan untuk menahan guncangan ekonomi sendiri.

Menyadari hal itu, banyak keluarga menengah memilih menata ulang konsep kecukupan finansial. Mereka tak lagi menunggu kebijakan atau pemulihan ekonomi sebagai solusi tunggal; penyelamatan dimulai dari unit terkecil, rumah tangga, melalui langkah-langkah praktis untuk menjaga stabilitas keuangan.

Siasat Menahan Tekanan

Salah satu langkah yang semakin populer adalah membatasi pengeluaran nonprimer secara ketat. Praktik yang dikenal di luar negeri sebagai komitmen no-buy kini muncul bukan karena tren gaya hidup, melainkan sebagai strategi mempertahankan ruang fiskal keluarga.

Banyak keluarga menunda atau menghapus belanja yang tidak mendesak: penundaan pembaruan gawai, pengurangan belanja pakaian bermerek, hingga memangkas kebiasaan jajan harian—yang meski kecil namun akumulatif berdampak pada anggaran.

Dana yang berhasil dihemat dialokasikan untuk tiga tujuan utama: kebutuhan pokok sehari-hari, meringankan beban orang tua dan keluarga, serta memperkuat dana darurat. Di samping penghematan, sejumlah rumah tangga melakukan penyesuaian struktural seperti memanfaatkan pekarangan untuk pangan, beralih ke transportasi umum, atau mengambil pekerjaan sampingan berbasis keterampilan digital.

Batas Ketahanan dan Kebutuhan Kebijakan

Langkah-langkah individual ini berfungsi sebagai benteng terakhir agar tidak turun kelas. Namun ketahanan rumah tangga memiliki batas. Perjuangan mandiri yang meluas semestinya menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan bahwa keberadaan kelompok menengah perlu mendapat perhatian.

Kelas menengah merupakan penopang utama konsumsi domestik dan kontribusinya signifikan terhadap perekonomian. Jika beban kelompok ini terus meningkat tanpa adanya kebijakan yang lebih ramah—seperti perluasan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), insentif pajak bagi pekerja, atau keterjangkauan layanan pendidikan dan kesehatan—maka dampaknya melebar hingga menekan permintaan domestik dan pertumbuhan ekonomi.

Menjaga kelas menengah agar tetap kuat bukan hanya soal melindungi satu lapisan masyarakat dari penurunan status ekonomi. Lebih daripada itu, menjaga kelompok ini berarti memperkokoh fondasi ekonomi agar tidak rapuh di tengah-tengah masyarakat.

Penulis adalah mantan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (2012–2014 & 2016–2020) dan mantan Duta Besar RI untuk WTO (2014–2015). Tulisan merupakan pendapat pribadi.