JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi global dan percepatan adopsi kecerdasan buatan mendorong perusahaan di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menata ulang strategi penggunaan kantor. Fleksibilitas ruang kerja kini dipandang sebagai elemen strategi untuk menjaga efisiensi, kelincahan operasional, dan daya saing.
Data dari International Workplace Group (IWG) menunjukkan permintaan solusi ruang kerja fleksibel di kawasan Asia Pasifik terus tumbuh hingga 52%. Di Indonesia, ekspansi jaringan IWG tercatat mencapai 59 pusat di sembilan provinsi, dengan target bertambah menjadi 62 pusat pada akhir 2026.
Alasan Perusahaan Beralih
Perusahaan mulai meninggalkan model kantor tradisional yang mengandalkan kontrak jangka panjang dan investasi besar. Sebagai gantinya, mereka mencari solusi yang memungkinkan penyesuaian ruang kerja sesuai perkembangan bisnis dan kebutuhan operasional.
“Perusahaan saat ini beroperasi dalam lingkungan yang berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Kemampuan untuk beradaptasi menjadi semakin penting, dan hal itu mencakup cara perusahaan mengelola ruang kerja serta mendukung produktivitas karyawannya,” kata Lars Wittig, Senior Vice President Asia Pacific IWG, dalam keterangan di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Perubahan Preferensi Tenaga Kerja
Perubahan karakteristik tenaga kerja juga mendorong permintaan ruang kerja fleksibel. Generasi milenial dan Gen Z semakin mengutamakan kebebasan menentukan waktu dan lokasi kerja, memengaruhi kebijakan perusahaan dalam menarik dan mempertahankan talenta.
Perusahaan kini cenderung menilai karyawan berdasarkan hasil kerja ketimbang durasi kehadiran fisik di kantor. Kebijakan kerja yang memberikan fleksibilitas dinilai mampu meningkatkan pengalaman karyawan sekaligus mengoptimalkan biaya operasional.
“Tidak hanya bagi korporasi besar, kebutuhan akan ruang kerja yang lebih fleksibel juga meningkat di kalangan startup, usaha kecil dan menengah, serta pekerja independen. Banyak profesional yang membutuhkan lingkungan kerja profesional tanpa harus menanggung biaya operasional kantor permanen,” ujar Lars Wittig.
Peran AI Dalam Perencanaan Ruang Kerja
Perkembangan AI turut mempercepat perubahan strategi perencanaan ruang kantor. Ketika struktur organisasi dan kebutuhan tenaga kerja berubah lebih cepat, sejumlah perusahaan memilih mengurangi komitmen terhadap kontrak properti jangka panjang dan beralih ke model ruang kerja fleksibel.
“Transformasi ini berpotensi menciptakan ekosistem kerja yang lebih dinamis. Dalam model ini, perusahaan tidak selalu harus memiliki seluruh keahlian secara internal, tetapi dapat mengakses talenta yang dibutuhkan sesuai kebutuhan bisnis,” kata Lars.
Implikasi Bagi Sektor Properti
Perubahan pola penggunaan kantor berdampak pada sektor properti komersial. Pemilik gedung dan pengembang menghadapi permintaan penyewa yang ingin ruang lebih fleksibel dan efisien, sekaligus mendapat peluang untuk meningkatkan tingkat hunian dan pendapatan dari aset yang kurang optimal.
IWG memandang kondisi ini membuka peluang pengembangan model ruang kerja yang dapat menyesuaikan berbagai kebutuhan pasar, termasuk kehadiran konsep ruang fleksibel di kawasan komersial campuran, pusat perbelanjaan, hingga area transit.
Transformasi Jangka Panjang
Masa depan dunia kerja dinilai semakin menekankan ekosistem yang mendukung produktivitas, kolaborasi, dan akses talenta. Pertanyaan yang kini dihadapi perusahaan bukan lagi apakah menerapkan fleksibilitas, melainkan bagaimana melakukannya secara efektif bagi bisnis dan karyawan.
“Bagi IWG, fleksibilitas bukan lagi sekadar tren dunia kerja, tetapi telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam menghadapi perubahan teknologi, dinamika tenaga kerja, dan ketidakpastian ekonomi. Perusahaan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut diperkirakan akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar di masa depan,” tutup Lars Wittig.
Ikuti Ihram.co.id
