Sektor batu bara diperkirakan akan bergerak positif sepanjang 2026 seiring lonjakan harga komoditas ini di pasar internasional. Riset Phintraco Sekuritas mencatat kenaikan harga batu bara year to date sebesar 42% ke posisi US$151,25 per ton, level tertinggi sejak September 2023.

Lonjakan harga didorong oleh beberapa faktor, termasuk pemangkasan kuota produksi batu bara Indonesia menjadi 600 juta ton, kenaikan harga minyak, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan LNG global.

Permintaan Asia Dan Dampak Kebijakan Domestik

Phintraco mencatat banyak negara Asia melakukan fuel switching dari gas ke batu bara, yang menopang permintaan dan mendongkrak harga batu bara global. “Kondisi tersebut mendorong banyak negara Asia melakukan fuel switching dari gas ke batu bara, sehingga menopang permintaan dan harga batu bara global,” tulis riset itu.

Di dalam negeri, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan sepanjang 2026 yang berdampak pada sektor batu bara. Langkah tersebut meliputi pemangkasan kuota produksi, rencana penerapan windfall tax, peningkatan porsi Domestic Market Obligation (DMO), serta peluncuran enam proyek gasifikasi batu bara senilai Rp164 triliun melalui PT Danantara.

Pemerintah juga memperkenalkan tata kelola ekspor baru melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang akan bertahap mengambil alih proses ekspor komoditas strategis mulai 2027.

Saham Pilihan dan Target Harga

Phintraco memberikan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara dan menunjuk beberapa saham sebagai pilihan utama. Broker ini menyebut ADMR dan PTBA sebagai top picks, sambil mencatat prospek positif sektor sejalan dengan ketidakpastian geopolitik dan peran batu bara sebagai substitusi energi.

Selain itu, emiten batu bara mulai memperkuat pertumbuhan jangka panjang melalui diversifikasi bisnis dan hilirisasi. Contohnya, ADMR mengembangkan bisnis aluminium melalui smelter KAI, sedangkan PTBA memulai hilirisasi pada proyek seperti DME dan artificial graphite yang mendapat dukungan pemerintah.

Phintraco menetapkan harga wajar beberapa saham sebagai berikut: AADI Rp13.800 (potensi naik 56%), ADRO Rp3.600 (57,8%), ADMR Rp2.310 (46,67%), ITMG Rp30.900 (31,6%), dan PTBA Rp2.800 (6,87%). Dengan demikian, menurut riset ini potensi kenaikan terbesar ada pada saham ADRO.

Riset tersebut juga menegaskan bahwa saham BUMI tidak termasuk dalam kajian mereka.