PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan meraih keuntungan ganda seiring meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan damai sementara membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan lebih dari 20% pasokan energi global.

Perbaikan kondisi geopolitik itu berdampak pada dua sisi bisnis PTBA: penurunan harga bahan bakar yang menekan biaya operasional dan tetap tingginya harga batu bara yang menjaga margin perusahaan.

Efisiensi Biaya Operasional

Manajemen PTBA mencatat penurunan harga solar sebagai manfaat langsung dari beroperasinya kembali Selat Hormuz. Head of Investor Relations PTBA Aldy Pratama Iswardi menyampaikan, perseroan melihat harga solar turun dari Rp25 per liter pada April 2026 menjadi Rp21 per liter pada Mei 2026, dan terus turun pada dua pekan pertama Juni.

“Kami berharap, dengan Selat Hormuz kembali dibuka, harga bahan bakar akan lebih turun lagi,” kata Aldy dalam acara yang digelar secara virtual, Kamis (18/6/2026).

PTBA menggarisbawahi pentingnya efisiensi biaya bagi keberlanjutan bisnis. Aldy menyatakan upaya perusahaan difokuskan pada pengendalian biaya sebagai variabel yang bisa dikontrol, berbeda dengan harga batu bara atau BBM yang berada di luar kendali perusahaan. PTBA menargetkan cost leadership untuk memperkuat kinerja operasional.

Harga Batu Bara dan Prospek Margin

Di sisi lain, kondisi harga batu bara tetap memberikan dukungan. Menurut manajemen, tren normalisasi harga BBM di industri bersamaan dengan harga batu bara yang masih tinggi mendukung pemeliharaan margin PTBA selama setidaknya satu tahun ke depan.

Aldy menambahkan, bila pemulihan harga gas berlangsung lambat sampai akhir 2026, kondisi tersebut bisa membantu menjaga harga batu bara pada level tinggi hingga akhir tahun. “Jadi, memang laba bersih PTBA secara outlook akan meningkat jika kondisi masih sama seperti sekarang,” ujarnya.

Saat ini, harga batu bara di pasar spot tercatat terkoreksi US$1,20 (0,83%) menjadi US$143,80 per ton, namun masih berada di level tertingginya sejak kenaikan drastis pada akhir Februari 2026.

Target Produksi dan Peningkatan Infrastruktur

PTBA mematok target ambisius untuk mencapai produksi 100 juta ton per tahun pada 2030. Untuk mewujudkan target tersebut, perusahaan fokus meningkatkan fasilitas transportasi dan pelabuhan agar distribusi batu bara ke pelabuhan lebih lancar.

Proyek prioritas adalah jalur Tanjung Enim–Keramasan di Palembang, yang progresnya mencapai sekitar 84–85% dan ditargetkan beroperasi pada semester II-2026. Proyek ini diharapkan menambah kapasitas angkut sekitar 20 juta ton per tahun.

Selain itu, PTBA merencanakan peningkatan kapasitas pelabuhan Tarahan dari 27,5 juta ton menjadi 28,0 juta ton, serta pelabuhan Kertapati dari 8,0 juta ton menjadi 15,3 juta ton. Pekerjaan pada dua pelabuhan eksisting tersebut akan dilanjutkan setelah proyek Tanjung Enim–Keramasan selesai.

Penilaian Analis Terhadap Saham PTBA

Fundamental analyst Abida M. Armand memperkirakan valuasi saham PTBA relatif murah berdasarkan PBV 1,27x, dibandingkan rerata tiga tahun 1,46x. Berdasarkan perhitungan discounted cash flow (DCF), nilai wajar saham diperkirakan di Rp3.100 per saham, memberi potensi kenaikan sekitar 20%.

Abida menyoroti sentimen harga batu bara dan rasio pembayaran dividen PTBA sebesar 45% dengan dividend yield 4,4% sebagai faktor daya tarik saham.

Secara teknikal, Reza Diofanda mencatat 11 dari 25 analis merekomendasikan beli, 10 merekomendasikan hold, dan 4 jual. BRI Danareksa menaruh target rata-rata sekitar Rp2.950, tidak jauh dari target fundamental Rp3.100. Reza menilai pergerakan saham PTBA cenderung konsolidasi dan berpotensi mengalami technical rebound selama berada di area support-resistance 2.569–2.390.

Reza menambahkan, selama berada di zona tersebut PTBA berpotensi rebound dari level 2.090 hingga 3.150 dalam jangka pendek hingga menengah.