Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi yang paling banyak dijual investor asing di Bursa Efek Indonesia sepanjang pekan 15–19 Juni 2026. Transaksi jual bersih asing tercatat mencapai Rp 838,6 miliar pada periode tersebut.

Data perdagangan yang dicatat pihak sekuritas menunjukkan posisi net sell asing pada DSSA berada di puncak daftar, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan net sell Rp 630,2 miliar dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp 553,3 miliar. Secara keseluruhan, investor asing membukukan net sell senilai Rp 904 miliar di seluruh pasar BEI pada pekan yang sama.

Pergerakan Harga Terakhir

Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), harga saham DSSA melonjak 8,9% ke level Rp 850. Jika dihitung sepekan, saham ini tercatat menguat 3%, namun dalam satu bulan melemah 3,4%. Sejak awal tahun (year to date), DSSA tercatat turun tajam sebesar 78,9%.

Prospek Bisnis dan Rekomendasi Analis

Analis dari Sucor Sekuritas menilai DSSA sedang berupaya melakukan transformasi bisnis. Perusahaan disebut berperan sebagai konsolidator unit telekomunikasi dan teknologi di Grup Sinar Mas, serta berencana mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara melalui langkah-langkah strategis.

Dalam risetnya, Sucor menyebut rencana DSSA mengambil 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) dengan harga Rp 523 per saham sebagai bagian dari upaya masuk ke rantai nilai sektor infrastruktur telekomunikasi. Selain itu, DSSA membentuk joint venture dengan First Gen untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik geotermal berkapasitas 460 megawatt (MW) yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2020.

Dalam penilaian Sucor, net present value proyek geotermal ini diperkirakan US$ 895 juta dengan internal rate of return (IRR) 11%. Ekspansi ke bisnis telekomunikasi, teknologi, dan geotermal diprediksi dapat meningkatkan nilai pasar yang bisa digarap DSSA dari US$ 33 miliar menjadi US$ 76 miliar.

Sucor memproyeksi pertumbuhan pendapatan gabungan (CAGR) DSSA sebesar 11% pada periode 2025–2030 menjadi US$ 4,7 miliar, sementara laba bersih diperkirakan tumbuh 27% menjadi US$ 749 juta atau setara Rp 13,3 triliun. Berdasarkan analisis tersebut, Sucor mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DSSA dengan target harga Rp 990.