PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan pesat dalam beberapa kuartal ke depan, namun masih diperdagangkan dengan valuasi yang relatif murah dan diskon signifikan dibanding sejenis.
Samuel Sekuritas menyebutkan proyeksi pendapatan dan laba yang meningkat pada kuartal II-2026, sementara rumah tangga yang terjangkau layanan dan kebutuhan belanja modal menjadi pendorong utama ekspansi bisnis.
Proyeksi Keuangan Kuartalan
Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan WIFI pada 2Q26 mencapai Rp 976 miliar, naik 24,6% secara kuartal ke kuartal (qoq) dan melonjak 246,3% secara tahunan (yoy).
Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 191 miliar pada 2Q26, tumbuh 16,2% qoq dan 31,6% yoy. Pada 1Q26, WIFI melaporkan pendapatan Rp 784 miliar, meningkat 21,6% qoq dan 238,4% yoy.
Kontributor Pendapatan dan Kinerja Operasi
Kontribusi terbesar berasal dari segmen telekomunikasi sebesar Rp 590 miliar pada kuartal terakhir, naik 24% qoq dan 345,6% yoy, didukung sekitar 1,7 juta pelanggan. Segmen perdagangan grosir menyumbang Rp 125 miliar.
EBITDA dilaporkan mencapai Rp 547 miliar, tumbuh 17,3% qoq atau 203,4% yoy, dengan margin EBITDA sebesar 70%. Laba bersih kuartalan sebelumnya tercatat Rp 165 miliar, naik 7,4% qoq atau 99,2% yoy.
Ekspansi Layanan FWA dan Target Pelanggan
Samuel Sekuritas memperkirakan layanan fixed wireless access (FWA) yang dipasarkan melalui program Internet Rakyat (IRA) akan mendorong pertumbuhan pengguna, dengan estimasi 1,5–2 juta pelanggan FWA pada 2026 dan take-up rate (TUR) sekitar 55%.
Menurut riset yang ditandatangani Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian, produk FWA dianggap menawarkan ekspansi lebih cepat dibandingkan FTTH, serta tarif kompetitif Rp 100.000 per bulan. Namun margin EBITDA layanan FWA diperkirakan lebih rendah, sekitar 55–60%, dibanding layanan FTTH.
Belanja Modal dan Target Jangkauan
WIFI menyiapkan belanja modal (capex) untuk mendukung ekspansi. Perusahaan menganggarkan capex Rp 6,5 triliun terkait pengembangan FWA, dan Samuel Sekuritas mencatat total kebutuhan capex 2026 senilai Rp 8,4 triliun: Rp 6,4 triliun untuk FWA dan Rp 2 triliun untuk pengembangan FTTH.
Tahun ini, WIFI menargetkan 2,3 juta home connect (rumah yang menjadi pelanggan) atau tumbuh 35% yoy, serta 4 juta homepass (jaringan mencakup rumah) dengan TUR 58%.
Target Harga, Valuasi, dan Risiko
Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham WIFI dengan target harga Rp 5.200, mengindikasikan potensi kenaikan hingga 239% dari harga saat riset disusun.
Valuasi target didasarkan pada estimasi EV/EBITDA 2026 sebesar 7 kali, yang dijelaskan sebagai mencerminkan diskon sekitar 56% dibanding perusahaan sejenis.
Risiko utama yang dicatat analis meliputi realisasi akuisisi pelanggan yang lebih rendah dari target, melemahnya daya beli masyarakat, serta tekanan pada struktur neraca jika suku bunga meningkat sementara kebutuhan pendanaan tetap tinggi.
“Realisasi tersebut sejalan dengan proyeksi kami maupun konsensus pasar,” tulis analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian.
Ikuti Ihram.co.id
