Selandia Baru gagal melangkah keluar dari fase grup Piala Dunia 2026 setelah menyelesaikan tiga pertandingan tanpa kemenangan. Hasil tersebut menjadi kekecewaan besar bagi publik sepak bola negeri itu yang telah menanti 16 tahun untuk kembali tampil di putaran final.

Kiprah All Whites dibuka dengan hasil imbang 2-2 melawan Iran, lalu kalah 3-1 dari Mesir, dan akhirnya menutup babak grup dengan kekalahan telak 5-1 dari Belgia pada Jumat (27/06/2026). Kekalahan beruntun itu membuat tim asuhan Darren Bazeley tersingkir lebih cepat dari ekspektasi awal.

Harapan Awal Dan Penampilan Di Lapangan

Selama persiapan, skuad Selandia Baru dinilai relatif matang. Kehadiran penyerang berpengalaman Chris Wood dan sejumlah laga uji coba melawan lawan berkualitas menjadi modal bagi tim yang dianggap sebagai salah satu generasi terbaik Selandia Baru di Piala Dunia.

Namun di lapangan, peluang terbuang pada laga pembuka melawan Iran. Selandia Baru sempat unggul dua kali melalui gol-gol Eli Just, tetapi pertandingan berakhir imbang. Kemudian saat melawan Mesir, mereka juga sempat memimpin 1-0 namun tidak mampu mempertahankan keunggulan hingga akhir.

Lini pertahanan menjadi sorotan setelah tim kebobolan total 10 gol dalam tiga pertandingan. Menyusul kekalahan dari Belgia, Chris Wood berujar, “Itu akan menjadi hal besar yang akan kami lihat kembali.”

Jatah Otomatis Oseania Jadi Perdebatan

Gagalnya Selandia Baru memicu perbincangan soal kebijakan FIFA memberikan satu tiket langsung bagi wilayah Oseania dalam format Piala Dunia yang diperluas menjadi 48 tim. Dengan aturan tersebut, wakil Oseania mendapatkan tempat otomatis di putaran final, berbeda dengan model kualifikasi sebelumnya yang mengharuskan melalui playoff antarbenua.

Sebelum perubahan format, Selandia Baru terakhir lolos lewat jalur playoff pada Piala Dunia 2010. Kali ini mereka menempuh jalur kualifikasi Oseania yang relatif ringan, menghadapi tim-tim dari kawasan Pasifik dengan banyak pemain semiprofesional dan amatir.

Bagi federasi Selandia Baru, jatah otomatis tersebut membuka kemungkinan tampil rutin di Piala Dunia setiap empat tahun. Namun bagi sejumlah pihak, skema ini menimbulkan perbandingan dengan negara lain yang harus bersaing di zona kualifikasi lebih kompetitif.

Warisan dan Peluang Ke Depan

Meskipun tersingkir, partisipasi di Piala Dunia membawa keuntungan finansial. Hadiah uang dari keikutsertaan disebut mencapai 12,5 juta dolar AS, yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan sepak bola di negara itu.

Sepak bola di Selandia Baru masih menyusul popularitas rugbi, namun ada tanda-tanda perkembangan. Keberhasilan klub profesional baru seperti Auckland FC di kompetisi Australia disebut-sebut dapat membuka jalur pembinaan talenta muda.

Di antara pemain yang menonjol adalah Eli Just, yang mencetak tiga dari empat gol Selandia Baru di turnamen ini. Sebagian besar pemain dalam skuad menjalani Piala Dunia untuk pertama kali dan membawa pengalaman yang diharapkan berguna untuk masa depan.

Chris Wood, yang kini berusia 34 tahun dan pernah tampil pada Piala Dunia 2010, menyatakan harapannya untuk kemajuan tim. “Semoga dalam empat tahun ke depan, para pemain itu dan tim ini berada dalam kondisi yang sangat baik,” ujarnya.