Lakon Indonesia menandai usia delapan tahun dengan menegaskan komitmen pada pelestarian wastra, pemberdayaan perajin dan UMKM, serta pengurangan limbah fashion melalui pemanfaatan sisa kain. Perjalanan kreatif itu dipresentasikan dalam instalasi mini yang merangkum delapan koleksi sejak 2020 hingga 2026.
Delapan koleksi tersebut meliputi Pakaiankoe (2020), Gantari (2021), Aradhana (2021), Lorong Waktu (2022), RIK 062324 L (2023, kolaborasi dengan desainer Irsan), The Tailor Made 01 (2023), Pasar Malam (2024), Urub (2025), dan Koleksi Anniversary Lakon Indonesia ke-8 (2026).
“Lakon didirikan tahun 2018 dan kini ada 120 brand yang sudah bergabung dengan Lakon Indonesia,” ujar pendiri Lakon Indonesia, Thresia Mareta, saat ditemui di butik Lakon Indonesia, Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta.
Thresia menjelaskan bahwa selain memajukan industri fashion nasional, misi awal Lakon adalah meningkatkan kesejahteraan perajin Indonesia. Sejak awal, usaha itu dijalankan secara bertahap dengan mengajak brand bergabung dan memperkaya koleksi.
Awal Panggung Wastra
Pada 2020, Lakon mempresentasikan koleksi perdana Pakaiankoe di ASHTA District 8, SCBD, Jakarta. Bertema A Journey to Java, koleksi ini berupaya menghidupkan kembali warisan tekstil dan kerajinan Jawa dengan pendekatan modern agar pakaian etnik dapat masuk ke keseharian generasi kini.
“Nama ‘Pakaiankoe’ terasa personal, pengingat bahwa pakaian adalah identitas, kenangan, dan cerita tentang siapa kita, sekaligus menjadi langkah awal Lakon membangun ekosistem budaya yang menghubungkan desainer, perajin, dan masyarakat,” kata Thresia.
Koleksi berikutnya, Gantari: The Final Journey to Java, dipresentasikan pada 9 Oktober 2021 di Candi Prambanan, Yogyakarta, bertepatan Hari Batik Nasional 2021. Koleksi ini memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik karya perajin Jawa dengan siluet modern.
“Nama ‘Gantari’ bermakna cahaya dan semangat, simbol budaya yang terus bergerak dan menemukan bentuk baru. Koleksi ini memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik karya perajin Jawa dengan siluet modern, sekaligus merefleksikan perjalanan, ketahanan, dan harapan …” ujar Thresia.
Memanfaatkan Sisa Kain
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, Lakon mengenalkan konsep busana padu padan yang menghemat penggunaan pakaian dan mengolah sisa kain jadi produk bernilai. “Di Lakon, kain sisa kalau bisa kami olah menjadi sesuatu yang berharga,” kata Thresia.
Materi dari koleksi Aradhana (2021), bertema Seen and Unseen, menonjolkan penggunaan wastra Nusantara seperti batik, tenun ikat, songket, dan ulos. Koleksi ini menghadirkan lebih dari 30 busana ready-to-wear dan menekankan peran riset, pemberdayaan UMKM, serta pelestarian pengrajin lokal.
Upaya pengurangan limbah fashion tampak pula pada koleksi anniversary ke-8 Lakon pada 2026, di mana berbagai model outer dibuat dengan teknik jahit patch work menggunakan kain-kain sisa sehingga tiap produk menjadi unik dan tidak identik satu sama lain.
Dalam konteks limbah nasional, sumber data menunjukkan tekstil menyumbang sekitar 2,63% dari total sampah di Indonesia, masih lebih kecil dibanding limbah makanan (38,23%), plastik (19,49%), dan kertas/karton (11%).
Ikuti Ihram.co.id
