Ekonomi aplikasi seluler terus tumbuh kuat. Sepanjang 2025, konsumen global mengunduh 149 miliar aplikasi dan menghasilkan pendapatan dalam aplikasi sebesar US$167 miliar.

Di tengah lonjakan ini, Asia Tenggara menonjol sebagai kawasan dengan pertumbuhan pesat pada dua kategori utama: drama pendek dan gim seluler. Perubahan pola konsumsi digital mendorong kedua kategori tersebut menjadi pendorong utama nilai ekonomi aplikasi.

Drama Pendek Meroket di Asean

Menurut data dari platform intelijen pasar dan analitik digital, kategori short drama menjadi salah satu segmen hiburan mobile dengan pertumbuhan tercepat secara global. Pada 2025, kategori ini mencatat 2,26 miliar unduhan secara global.

Tren berlanjut pada 2026, dengan unduhan naik 140% secara tahunan pada kuartal I-2026. Kawasan Asean menyumbang 32% dari total unduhan global dan mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 220%.

“Pengguna di kawasan ini kini menghabiskan rata-rata hampir 40 menit per hari untuk menikmati format cerita singkat yang dirancang khusus untuk perangkat mobile ini,” ujar Krishan Patel, Country Head INSEA & ANZ di Sensor Tower, dalam keterangan resmi.

Prospek dan Tren Industri Gim Global

Laporan video gaming 2026 dari Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan industri gim global berpotensi mencapai sekitar US$350 miliar pada 2030. BCG mengidentifikasi empat tren strategis yang akan membentuk pertumbuhan industri dalam 5–10 tahun ke depan.

Pertama, adopsi AI generatif yang diperkirakan akan mengubah proses pembuatan game dan memicu gelombang judul baru. BCG mencatat bahwa pada pertengahan 2025 sekitar 20% game baru di Steam mengungkapkan penggunaan AI, angka yang tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Kedua, ekspansi konten buatan pengguna (user generated content/UGC) yang memperluas keterlibatan audiens di luar basis pengguna muda saat ini. BCG mencatat ekonomi kreator untuk platform seperti Fortnite dan Roblox akan melihat pembayaran melebihi US$1,5 miliar pada 2025.

Ketiga, munculnya cloud gaming yang diyakini dapat mempercepat perubahan distribusi dan memperluas akses tanpa ketergantungan kuat pada perangkat keras. Menurut BCG, 60% responden survei mengatakan mereka sudah mencoba cloud gaming, dan 80% dari mereka melaporkan pengalaman positif.

Keempat, pembukaan toko aplikasi baru yang memberi peluang bagi pengembang untuk mengurangi biaya dan mengontrol distribusi, yang berpotensi mengubah ekosistem game seluler—sektor yang mewakili 50% dari pendapatan game global.

Kontribusi dan Tantangan Industri Gim Indonesia

Data menunjukkan Indonesia kini menjadi kekuatan penting di industri gim global. Sektor ini menyumbang sekitar Rp71 triliun per tahun dan didukung lebih dari 2.000 pengembang serta penerbit aktif di berbagai wilayah.

Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan lebih dari 154 juta pemain gim, setara sekitar 40% dari total pemain di Asean. Menurut Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, ekosistem gim nasional kian berkembang berkat berbagai program dan pertemuan bisnis internasional yang membuka peluang kemitraan global.

Sejak 2021, program seperti Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) dilaporkan memfasilitasi ribuan pertemuan bisnis antara pengembang lokal dan mitra internasional serta membuka akses bagi kreator muda melalui rangkaian program pelatihan dan konferensi.

Dominasi Asing dan Akses Pendanaan

Meski pasar nasional besar, pengembang lokal menghadapi tantangan penguasaan pasar. Saat ini 97,5% pasar gim nasional dianggap dikuasai oleh pengembang asing, sementara pengembang lokal hanya meraih sekitar 2,5% dari total nilai pasar yang bernilai sekitar Rp30 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia, Shafiq Husein, menyatakan valuasi pasar gim global mencapai US$187 miliar—dua kali lipat gabungan industri film dan musik—namun pendapatan yang mengalir ke pengembang lokal masih terbatas.

“Pemasukan pengembangan gim lokal hanya sebesar Rp750 miliar per tahun atau setara 2,5% dari pasar Indonesia sendiri. Berarti 97,5% memang larinya ke gim luar,” kata Shafiq.

Isu akses pendanaan disebut sebagai salah satu penghambat utama bagi pengembang lokal untuk memanfaatkan penuh potensi pasar domestik dan global.