MSCI dan FTSE sedang menilai bukan pertumbuhan ekonomi, melainkan kualitas dan aksesibilitas pasar modal Indonesia. Hasil review kedua penyusun indeks ini menjadi perhatian pelaku pasar, terutama investor institusi dan investor asing.
Di tengah keyakinan sebagian investor terhadap prospek pertumbuhan Indonesia, fokus utama kini adalah apakah pasar modal Indonesia masih memenuhi standar yang dibutuhkan untuk menempatkan modal dalam jangka panjang.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan sebagian kekhawatiran sudah tercermin dalam arus keluar dana asing yang mencapai hampir Rp 80 triliun sepanjang tahun berjalan ini.
Ihram.co.id — “Menurut kami, sebagian kekhawatiran tersebut sudah tercermin dalam arus keluar dana asing yang mencapai hampir Rp 80 triliun sepanjang tahun berjalan ini,”
“Tak ayal, kami juga curiga bahwa front running smart money ketika valuasi saham sedang murah-murahnya seperti saat ini, telah terjadi secara diam-diam, walau tanpa bendera asing,”
Liza menambahkan bahwa perhatian investor bukan sekadar status masuknya Indonesia sebagai emerging market, melainkan catatan soal aksesibilitas pasar, kepastian regulasi, perlindungan investor, dan independensi mekanisme pasar.
“Karena itu, review tahun ini memiliki bobot psikologis yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Tiga Isu Utama
Dalam penilaian yang berpotensi dicatat MSCI dan FTSE, terdapat setidaknya tiga isu utama yang dipandang berisiko bagi pasar modal Indonesia.
Pertama, market accessibility dan ease of investing. Investor asing menilai kemudahan keluar-masuk pasar, proses transaksi, settlement, short selling, securities lending, serta efisiensi operasional pasar.
Kedua, predictability of policy atau kepastian kebijakan. Menurut Liza, investor global bisa menerima perubahan kebijakan, tetapi sensitif terhadap langkah yang muncul mendadak, minim konsultasi pasar, atau berpotensi mengubah mekanisme pasar secara signifikan.
Ketiga, governance dan market confidence. Dalam beberapa bulan terakhir muncul diskusi mengenai peran negara yang meningkat di pasar keuangan, termasuk melalui berbagai inisiatif kebijakan dan lembaga investasi strategis.
“Bagi investor asing, yang terpenting bukan siapa pelakunya, melainkan apakah mekanisme pasar tetap transparan, kompetitif, dan dapat diprediksi,” ujar Liza.
Menurutnya, risiko terbesar bagi pasar modal saat ini lebih bersumber dari persepsi terhadap kualitas institusi dan kepastian aturan main, bukan kondisi ekonomi makro semata.
Ikuti Ihram.co.id
