Sepetak lahan yang mangkrak selama 30 tahun di Dusun Banyunganti, Kalurahan Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, kini berubah menjadi lahan pertanian produktif. Perubahan itu dicapai melalui pengelolaan intensif oleh Kelompok Tani Mudotomo Dukuh Banyunganti.
Dengan menerapkan sistem tumpang sari, kelompok tani menanam jagung berseling singkong dan ubi jalar sehingga memaksimalkan pemanfaatan lahan seluas 7.000 meter persegi. Hasilnya: produktivitas jagung tercatat mencapai 8,33 ton per hektare.
Ketua Kelompok Tani Mudotomo, Sutarman, menjelaskan strategi pengelolaan lahan yang dilakukan petani setempat.
Ihram.co.id — “Lahan ini sempat mangkrak selama 30 tahun. Kami mencoba mengolahnya kembali dengan sistem tumpang sari agar lahan benar-benar optimal. Hasilnya ternyata jauh di luar dugaan kami,” kata Sutarman.
Produktivitas Melampaui Rata-Rata
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Trenggono Trimulyo, menyampaikan bahwa capaian produktivitas di Banyunganti jauh di atas rata-rata wilayah.
Menurut Trenggono, produktivitas 8,33 ton per hektare itu melebihi rata-rata Kabupaten Kulon Progo yang berada di angka 6,5 ton per hektare dan juga melampaui rata-rata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 5,7 ton per hektare.
“Angka ini tercatat jauh melampaui rata-rata kabupaten sebesar 6,5 ton per hektare, bahkan mengungguli capaian rata-rata tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 5,7 ton per hektare,” ujar Trenggono.
Tantangan dan Dukungan Pemerintah
Meski mendapat hasil menggembirakan, para petani masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Tantangan yang disebutkan meliputi keterbatasan alat kultivator, kebutuhan sistem irigasi, serta pengendalian hama tanaman.
Pemerintah daerah menyatakan siap memberikan pendampingan agar keberlanjutan pengelolaan lahan tersebut terjaga dan dapat menjadi contoh bagi desa lain di Kabupaten Kulon Progo.
“Hasil ubinan di wilayah Jatimulyo ini sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan pengelolaan yang tepat, lahan tidur yang sudah 30 tahun tidak terjamah mampu memberikan hasil panen berkualitas tinggi,” kata Trenggono.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menilai transformasi lahan di Banyunganti sebagai contoh penguatan kemandirian pangan berbasis desa. Menurutnya, optimalisasi lahan tidur tidak hanya meningkatkan pendapatan petani tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Keberhasilan ini tidak hanya menambah pundi-pundi ekonomi petani, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan daerah yang mandiri tanpa ketergantungan pada impor,” ujar Agung.
Ikuti Ihram.co.id
