Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat melemah 3,58% ke level Rp4.310 pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Meski turun, perdagangan saham ini mencatat aktivitas besar dari investor ritel maupun institusi.

Sebanyak 377,27 juta saham BMRI berpindah tangan dengan frekuensi 38.065 kali dan nilai transaksi mencapai Rp1,64 triliun. Data aplikasi Stockbit Sekuritas menunjukkan investor ritel mencatat net buy sebesar Rp618,7 miliar dengan harga rata-rata pembelian Rp4.336 per saham.

Kondisi Valuasi dan Pergerakan Mingguan

Dari sisi valuasi, BMRI tercatat memiliki price to book value (PBV) 1,32 kali, di bawah minus satu standar deviasi PBV tiga tahun terakhir yang sebesar 1,61 kali. Rasio price earning ratio (PER) BMRI berada di 6,88 kali (TTM), juga di bawah minus satu standar deviasi tiga tahun terakhir 8,05 kali.

Pada pekan 15–19 Juni, saham BMRI justru menguat 2,62%. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp327,16 miliar pada periode tersebut, yang merupakan perubahan dari beberapa pekan sebelumnya ketika asing cenderung net sell.

Kinerja Keuangan

Bank Mandiri membayarkan dividen final tahun buku 2025 pada 25 Mei 2026 dengan total distribusi Rp35,14 triliun atau Rp376,95 per saham.

Secara operasional, laba bersih bank only Bank Mandiri melonjak 18,6% secara tahunan untuk periode Januari–Mei 2026. Laba bersih pada Mei 2026 meningkat 17,9% secara tahunan dan 17,6% secara bulanan.

“Laba bersih BMRI telah memenuhi 41,3% dari proyeksi laba 2026 versi kami dan 40,7% dari konsensus pasar, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis lima tahun yang berada di kisaran 35% pada periode yang sama,”

Hal ini disampaikan oleh analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, dalam risetnya.

BMRI mencatat pertumbuhan kredit 20,6% yoy, diimbangi kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 22% yoy. Komposisi dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 11,9% yoy.

Biaya kredit (cost of credit/CoC) membaik 20 basis poin menjadi 0,5% dari 0,7% pada periode sama tahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) menurun, sementara return on equity (RoE) tahunan mencapai 22,8%.

Namun, suku bunga rendah pada portofolio kredit lama menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BMRI sebesar 30 bps yoy menjadi 4,4% selama Januari–Mei 2026.

BMRI mempertahankan profil aset yang solid dengan porsi kredit 68,5% dari total aset dan surat berharga 13,2% di tengah tren kenaikan imbal hasil.

“Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 75 bps baru-baru ini menjadi faktor yang berpotensi mengubah keadaan,”

Akhmad menambahkan bahwa penyesuaian suku bunga kredit yang relatif cepat diperkirakan dapat mengurangi tekanan pada margin bunga, sehingga BMRI berpeluang mencapai atau melampaui target NIM 2026 sebesar 4,5–4,7%.

Target Harga dan Rekomendasi

Penurunan harga saham BMRI yang sempat mencapai lebih dari 31% dipandang sebagai dampak sentimen pasar. Saham sempat tertekan ke level terendah Rp3.710, jauh dari puncak tahunan sebelumnya.

Menurut riset KB Valbury Sekuritas, koreksi tersebut tidak sejalan dengan fundamental dan membuat valuasi BMRI diperdagangkan jauh di bawah nilai wajarnya. Karena itu, rumah analis tersebut mempertahankan rekomendasi beli untuk BMRI dengan target harga berbasis Gordon Growth Model sebesar Rp5.660 per saham.

Target harga itu mencerminkan estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 1,8 kali. Pada saat ini BMRI diperdagangkan pada P/B 2026 sekitar 1,4 kali, sedikit di atas level minus dua standar deviasi yang mencapai 1,2 kali.