Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan masih berada di bawah tekanan sepanjang pekan ini. Pelemahan harga minyak mentah dunia dan stok minyak sawit yang tinggi di Malaysia menjadi faktor yang membatasi potensi penguatan harga.

Senior Palm Oil Trader Interband Group of Companies, Jim Teh, menyatakan kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives kemungkinan besar akan bergerak dengan kecenderungan bearish karena mengikuti pelemahan pasar energi.

Pengaruh Pasar Energi dan Stok

“Harga minyak mentah telah turun ke kisaran US$73-74 per barel. Karena pergerakan CPO selama ini sejalan dengan pasar energi, kontrak berjangka CPO diperkirakan masih akan melemah pada pekan ini,” kata Teh.

Selain tekanan dari harga energi, pasokan yang melimpah juga menjadi faktor pembatas. Malaysia saat ini memiliki stok minyak sawit sekitar 2,43 juta ton, sehingga ruang untuk penguatan harga dinilai masih terbatas.

Perkiraan Kisaran Harga

Teh memperkirakan CPO akan bergerak di kisaran 4.250-4.350 Ringgit Malaysia per ton selama pekan ini. Meski begitu, permintaan fisik diperkirakan tetap datang dari sejumlah negara importir utama seperti India, Pakistan, China, kawasan Asia Barat, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, yang diharapkan mampu menahan penurunan agar tidak lebih dalam.

Pandangan serupa disampaikan proprietary trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng. Menurut dia, tekanan pada CPO berlanjut setelah harga minyak mentah melemah menyusul tercapainya kesepakatan damai di kawasan Asia Barat.

“Harga CPO diperkirakan bergerak di kisaran 4.450 Ringgit Malaysia per ton hingga 4.650 Ringgit Malaysia per ton,” kata Ng.

Pergerakan Kontrak Mingguan

Secara mingguan, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives tercatat melemah di seluruh tenor. Kontrak Juli 2026 turun 90 Ringgit Malaysia menjadi 4.504 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Agustus 2026 melemah 83 Ringgit Malaysia menjadi 4.539 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak September 2026 terkoreksi 78 Ringgit Malaysia ke level 4.568 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang turun 77 Ringgit Malaysia menjadi 4.591 Ringgit Malaysia per ton, kontrak November 2026 turun 78 Ringgit Malaysia menjadi 4.611 Ringgit Malaysia per ton, serta kontrak Desember 2026 melemah 79 Ringgit Malaysia ke level 4.631 Ringgit Malaysia per ton.