PT Telkom Indonesia Tbk menargetkan menutup atau mendivestasi 10 anak usahanya hingga akhir Juni 2026. Langkah ini merupakan bagian dari program lima tahunan Telkom 30 untuk merampingkan struktur perusahaan dan memperkuat fokus pada bisnis inti sebagai perusahaan infrastruktur digital.

Direktur Utama Dian Siswarini mengatakan tujuan pemangkasan adalah menyisakan entitas yang relevan dengan strategi inti. “Jadi, sampai akhir Juni ini, kami menargetkan 10 anak perusahaan bisa ditutup atau didivestasi,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam program Economic Update yang disiarkan secara virtual.

Transformasi dan Konsolidasi Anak Usaha

Dengan realisasi target itu, Telkom diharapkan hanya memiliki 15 anak perusahaan dari sebelumnya 67 entitas. Dian menyatakan entitas yang dihentikan adalah unit usaha yang tidak lagi relevan bagi posisi Telkom sebagai perusahaan infrastruktur digital.

Mekanisme penutupan dilakukan melalui divestasi maupun konsolidasi dengan perusahaan sejenis. Sebagai contoh, melalui PT Multimedia Nusantara (Telkom Metra), Telkom baru-baru ini mendivestasi PT Administrasi Medika (AdMedika) beserta entitas anaknya Telko Medika kepada kelompok layanan kesehatan asal Singapura, Fullerton Health.

Menurut Dian, keberhasilan transaksi tersebut memperlihatkan AdMedika memiliki bisnis dan valuasi menarik. “Jadi, ini menunjukkan bahwa investor luar sebenarnya masih tertarik berinvestasi di Indonesia dan terbukti 2 Juni 2026 kemarin, kami sukses mendivestasi bisnis kepada investor luar negeri,” katanya.

Spin-off Fiber dan Target Pendapatan Eksternal

Salah satu pilar lain dalam Telkom 30 adalah unlocking value, terutama dari aset fiber, menara, dan satelit. Telkom memisahkan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) yang dipersiapkan menjadi FiberCo terbesar di Indonesia.

Dian mengatakan pemisahan ini dimaksudkan agar InfraNexia lebih gesit dalam memanfaatkan aset dan menawarkan kapasitas ke pihak di luar grup. “Spin off ini sekaligus menandai fase pertama dan insyaallah fase kedua serta terakhirnya kira-kira kuartal III-2026 di mana semua bisnisnya akan dipindahkan sehingga pada awal 2027 sudah full FiberCo,” ujarnya.

Telkom memproyeksikan pendapatan eksternal (external revenue) akan meningkat dari 10% menjadi 30% dalam tiga tahun ke depan pasca-pemisahan bisnis fiber. Dian berharap InfraNexia menjadi sumber pertumbuhan besar bagi grup, sehingga valuasi Telkom tidak hanya bergantung pada segmen B2C Telkomsel.

Proyeksi Kinerja dan Rekomendasi Analis

Riset KISI Sekuritas yang mengutip Bloomberg memproyeksikan pendapatan Telkom tumbuh dengan CAGR 1,7% menjadi Rp157,2 triliun pada 2028. Segmen fixed broadband (IndiHome) diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan dengan pelanggan naik sekitar 30% menjadi 13,4 juta pada 2028.

Meski menghadapi tekanan ARPU, KISI Sekuritas memperkirakan Telkom mampu mempertahankan margin EBITDA sekitar 50% berkat pengendalian biaya. Proyeksi laba bersih Telkom sebesar Rp23,1 triliun pada 2026, Rp24,3 triliun pada 2027, dan Rp23,7 triliun pada 2028 tercantum dalam riset tersebut.

Equity Analyst Phillip Sekuritas Indonesia, Edo Ardiansyah, mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TLKM dengan target harga Rp3.500 per saham. Target ini didasarkan pada proyeksi valuasi FY26F: P/E 15,3x, PBV 2,4x, dan EV/EBITDA 4,5x. “Menurut kami, valuasi tersebut masih tergolong menarik … terutama dengan adanya potensi re-rating seiring transformasi TLKM menuju model strategic infrastructure holding,” tulis Edo dalam risetnya.

Pergerakan Saham dan Dividen

Pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026, saham TLKM ditutup turun 40 poin atau 1,57% ke level Rp2.500, memperpanjang penurunan year-to-date menjadi 28,16%. Meski demikian, dibandingkan target harga Rp3.500 per saham, terdapat potensi kenaikan sekitar 40% dari harga penutupan tersebut.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026, Telkom memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp21,9 triliun atau setara Rp221 per saham. Pemegang saham yang namanya tercatat pada 19 Juni 2026 berhak menerima dividen; cum dividen untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 17 Juni 2026 dan ex dividen pada 18 Juni 2026. Untuk pasar tunai, cum dividen pada 19 Juni 2026 dan ex dividen pada 22 Juni 2026. Pembayaran dividen dilaksanakan paling lambat 10 Juli 2026.