Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menguat signifikan pada perdagangan Kamis (25/6/2026), ditutup naik 5,29% ke Rp 1.890. Volume perdagangan mencapai 554,38 juta saham dengan nilai transaksi Rp 1,03 triliun.
Investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp 64,7 miliar pada saham emiten konglomerat Prajogo Pangestu itu. Kenaikan ini terjadi setelah saham sempat anjlok 12,44% pada Rabu (24/6/2026).
Pergerakan Saham Dan Rekomendasi Broker
Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan buy untuk TPIA pada sesi II perdagangan Kamis. Broker tersebut menetapkan level support di 1.760 dan resistance di 2.180.
Perdagangan saham TPIA dicatat dengan frekuensi 81.566 kali, mencerminkan likuiditas tinggi pada hari tersebut.
Strategi Akuisisi Penggerak Pertumbuhan
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal, menyatakan strategi ekspansi anorganik sepanjang 2025 hingga awal 2026 menjadi faktor utama pemulihan kinerja Chandra Asri.
Ihram.co.id — “Strategi itu secara signifikan memperkuat eksposur Chandra Asri di bisnis energi dan petrokimia hilir,” tulis Ashalia dan Naufal dalam risetnya.
Dalam rangkaian akuisisi tersebut, TPIA membeli Singapore Energy and Chemicals Park milik Shell pada April 2025, yang kini beroperasi sebagai Aster Chemicals and Energy (ACE) dengan fasilitas steam cracker etilena dan platform kimia hilir.
Pada Mei 2025, TPIA mengakuisisi aset Chevron Phillips Chemical yang beroperasi sebagai Aster Polymer Solutions (APS), menambah kapasitas produksi high-density polyethylene (HDPE). Pada Juni 2025, TPIA juga mengakuisisi condensate splitter unit (CSU) dari PCS Pte Ltd yang tengah direvitalisasi untuk meningkatkan efisiensi.
“Secara keseluruhan, rangkaian transaksi tersebut mendorong total aset TPIA meningkat 118% yoy menjadi US$ 12,3 miliar pada 2025,” kata Ashalia.
Memasuki 2026, TPIA memperkuat bisnis energi dengan mengakuisisi jaringan ritel bahan bakar bermerek Esso milik Exxon Mobil pada Januari 2026, sebagai bagian dari perluasan bisnis energi perusahaan.
Lonjakan Kapasitas Produksi
TPIA, produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang didukung Grup Barito Pacific, mencatat kapasitas produksi stagnan 4.232 KT pada 2020–2024. Namun setelah akuisisi, kapasitas melonjak menjadi 8.501 KT pada 2025.
Perusahaan menargetkan kelanjutan ekspansi pada 2026–2027 melalui pengembangan fasilitas MTBE dan Butene-1 serta proyek pabrik chlor-alkali (CA) dan ethylene dichloride (EDC) di Cilegon yang masih dalam konstruksi.
“Targetnya mulai beroperasi secara komersial (COD) pada 2027,” ungkap Ashalia mengenai proyek-proyek tersebut.
Dengan tambahan kapasitas dari proyek-proyek itu, total kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 21.155 KT pada 2027, naik sekitar 2,5 kali dibandingkan 2025 dan hampir lima kali lipat dibandingkan posisi 2024.
Ashalia menyatakan prospek pertumbuhan laba TPIA didukung bukan hanya oleh dampak awal akuisisi 2025, tetapi juga oleh ekspansi kapasitas yang berkelanjutan.
Kinerja Keuangan Terbaru
Pada kuartal I-2026, TPIA mencatat pemulihan kinerja dengan pendapatan melonjak 286% year on year menjadi US$ 2,4 miliar. Perusahaan juga membukukan laba bersih US$ 140,7 juta, berbalik dari posisi rugi pada kuartal sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.
Ikuti Ihram.co.id
