Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya berhasil membujuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan agar tidak ikut campur dalam konflik yang melibatkan Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di Oval Office pada akhir Juni 2026.
Menurut Trump, Erdogan berpotensi terlibat dalam operasi militer mendukung Iran karena sikapnya terhadap Israel, namun ia mengaku meminta pemimpin Turki untuk menarik diri dan mengatakan Erdogan menuruti permintaan tersebut.
“Dia adalah kandidat kuat untuk ikut terjebak dalam perang melawan Iran. Mungkin di pihak Iran, karena dia bukan penggemar berat Israel,” ujar Trump. “Saya memintanya untuk tidak ikut campur. Dan dia menuruti hal itu.”
Trump juga menyampaikan pujian kepada Erdogan. “Erdogan adalah pemimpin yang hebat, pribadi yang kuat… Semua yang pernah saya minta darinya, selalu dia lakukan,” katanya.
Ketegangan Antara Turki dan Israel
Pernyataan Trump muncul di tengah retorika keras dari pejabat Turki terhadap Israel. Awal bulan tersebut, seorang menteri dalam negeri Turki menyerukan agar negara itu berperan dalam upaya pembebasan Yerusalem.
Erdogan, yang kerap mengkritik kebijakan Israel, menyebut agresi Israel sebagai ancaman dan menilai serangan udara di Lebanon dan Suriah mengancam keamanan Turki. Hubungan diplomatik kedua negara memburuk sejak Erdogan menjabat dan makin tegang pasca pecahnya perang di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Isu Penjualan F-35 ke Turki
Dalam kesempatan yang sama, Trump ditanyai soal kemungkinan paket senjata untuk Turki menjelang KTT NATO, yang kabarnya mencakup jet tempur siluman F-35 dan puluhan mesin jet.
“Saya rasa begitu, lihat saja… Saya kemungkinan akan melakukan sesuatu yang membuat dia sangat bahagia,” ujar Trump menanggapi pertanyaan tersebut.
Ketika diminta menjelaskan syarat yang harus dipenuhi Ankara agar bisa memperoleh F-35, Trump mengarahkan pertanyaan itu kepada Wakil Presiden JD Vance. Vance menyebut ada beberapa sertifikasi yang harus dipenuhi untuk mematuhi hukum AS dan bahwa hal tersebut merupakan ranah kongres.
Trump kemudian menegaskan bahwa persoalan itu akan diselesaikan.
Program F-35 awalnya dikembangkan oleh AS bersama sejumlah mitra NATO melalui program Joint Strike Fighter, dan Turki merupakan salah satu mitra awal. Pada 2019, pemerintah AS mengeluarkan Turki dari program tersebut setelah Ankara membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia, yang dinilai mengancam data sensitif jet F-35.
Berdasarkan aturan AS, Turki tidak dapat mengoperasikan atau memiliki S-400 jika ingin kembali bergabung dalam program F-35. Meski demikian, Trump menyiratkan adanya upaya rujuk antara kedua negara.
Selain itu, Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack disebutkan menilai hubungan pribadi antara Trump dan Erdogan memfasilitasi diskusi yang produktif terkait isu ini dalam beberapa tahun terakhir.
Ikuti Ihram.co.id
