PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5%–10% pada 2026. Target itu ditempuh melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar ekspor ke Eropa serta Timur Tengah.

Manajemen menyatakan target dipilih secara konservatif mengingat ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik. Perusahaan juga berfokus pada pengembangan produk dengan siklus bisnis lebih cepat untuk menangkap peluang pertumbuhan.

Direktur WOOD Wang Sutrisno mengatakan, “Kami tidak ingin terlalu agresif. Namun kami melihat masih ada sejumlah peluang pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan, terutama melalui pengembangan produk baru dan ekspansi pasar.”

Strategi Produk dan Pasar

Strategi utama perusahaan tahun ini adalah memperluas basis pasar ekspor sekaligus mempercepat pengembangan produk. WOOD berencana meluncurkan produk baru seperti flooring dan outdoor furniture untuk memperkuat sumber pendapatan.

Selain mempertahankan pasar Amerika Serikat sebagai kontributor utama, perusahaan meningkatkan penetrasi ke Eropa dan Timur Tengah. Upaya ini mengikuti lonjakan penjualan ke Eropa pada 2025 dan kuartal I-2026.

Kinerja Penjualan dan Perubahan Pasar

Pada 2025, penjualan WOOD ke kawasan Eropa tercatat naik 654% menjadi Rp 242,1 miliar. Tren itu berlanjut pada kuartal I-2026, dengan penjualan ke Eropa meningkat 2.133% menjadi Rp 112,7 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pasar domestik juga menunjukkan perbaikan. Penjualan dalam negeri pada kuartal I-2026 meningkat 634% menjadi Rp 31,6 miliar.

Meski demikian, WOOD menghadapi tekanan sepanjang 2025 karena melemahnya permintaan dari pasar AS. Penjualan bersih tercatat Rp 2,63 triliun, turun 5,8% dari Rp 2,79 triliun pada 2024.

Dampak Terhadap Profitabilitas

Penurunan pendapatan berdampak pada profitabilitas. Laba usaha turun 23,8% menjadi Rp 289 miliar, EBITDA turun 19,2% menjadi Rp 383 miliar, dan laba bersih merosot 57,6% menjadi Rp 65 miliar dari Rp 155 miliar pada 2024.

Wang menjelaskan pelemahan kinerja terutama disebabkan turunnya permintaan dari AS. Penjualan ke AS turun 14,2% menjadi Rp 2,16 triliun dan masih menyumbang sekitar 82,2% terhadap total pendapatan perusahaan.

Komposisi Aset dan Segmen Usaha

Perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 2,1% menjadi Rp 8 triliun, yang didorong oleh kenaikan nilai persediaan sebesar 8,35%.

Dari sisi segmen, bisnis building component tetap menjadi motor utama dengan penjualan Rp 2,24 triliun atau naik 13,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, segmen manufaktur furnitur mengalami tekanan dengan penjualan turun 52,9% menjadi Rp 358,5 miliar.

Secara keseluruhan, bisnis manufaktur ekspor masih mendominasi pendapatan WOOD dengan kontribusi mencapai 98,6%.

Performa Kuartal I-2026 dan Langkah Ke Depan

Pada kuartal I-2026, WOOD membukukan penjualan Rp 722,4 miliar dan laba bersih Rp 28,62 miliar. Segmen ekspor building component menjadi kontributor terbesar dengan penjualan Rp 631,05 miliar atau sekitar 85,35% dari total pendapatan kuartalan.

Ke depan, manajemen menyatakan akan terus menjalankan program efisiensi dan mengoptimalkan portofolio bisnis untuk menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang menantang. “Kami terus menjalankan berbagai program efisiensi dan optimalisasi portofolio bisnis agar profitabilitas tetap terjaga di tengah kondisi pasar yang masih menantang,” kata Wang.