Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyoroti besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) yang ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan Mini LNG Plant milik PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Menurut Bahlil, fasilitas tersebut memproduksi LNG, LPG, kondensat, dan compressed natural gas (CNG) yang dapat mendukung kebutuhan energi domestik, terutama sektor industri.

Dia menegaskan investasi seperti ini merupakan upaya nyata untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tanpa memandang besar kecilnya kapasitas produksi.

Kesenjangan Produksi dan Impor

Bahlil memaparkan konsumsi LPG nasional sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 1,8 juta sampai 2 juta ton per tahun.

Perbedaan tersebut mendorong impor sekitar 6,5 juta hingga 7 juta ton LPG setiap tahun. Dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) US$70 per barel, impor LPG diperkirakan menguras devisa sekitar Rp 120 triliun. Jika ICP berada di atas US$90 per barel, nilai devisa yang harus dikeluarkan meningkat menjadi sekitar Rp 140 triliun hingga Rp 150 triliun.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa ketergantungan kita terhadap impor LPG masih sangat besar,” kata Bahlil.

Peran Mini LNG Plant

Bahlil menilai Mini LNG Plant PT SAG di Tuban bisa menjadi bagian dari solusi untuk memperluas bauran energi dan mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, fasilitas ini diharapkan memperkuat kepastian pasokan bahan baku energi bagi industri.

Dia juga menyorot pentingnya kepastian pasokan dan harga gas, khususnya di kawasan industri seperti Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta yang mengalami penurunan lifting gas.

“Industri harus tetap mendapat kepastian bahan baku dan kepastian harga. Kita harus mencari jalan tengah agar investasi tetap berjalan,” ujar Bahlil.

Permintaan Kepada Pelaku Migas

Bahlil meminta SKK Migas, Pertamina, dan PGN memberikan dukungan penuh terhadap investasi Mini LNG Plant PT SAG. Ia menekankan perubahan kontrak atau harga di tengah masa investasi dapat mengganggu perhitungan bisnis perusahaan.

“Orang sudah investasi besar, jangan sampai dua tahun kemudian macet. Kontrak harus dijaga, jangan diubah-ubah supaya ada kepastian investasi,” katanya.

Menurut Bahlil, perubahan harga dapat memperpanjang masa pengembalian modal. Investasi yang diproyeksikan kembali modal dalam delapan tahun bisa molor menjadi sepuluh tahun jika terjadi perubahan harga yang tidak terukur.

Isu Sumur Minyak Rakyat

Selain meresmikan fasilitas pengolahan gas, Bahlil mendorong percepatan penyelesaian persoalan sumur minyak rakyat di Tuban. Ia meminta SKK Migas dan Pertamina segera mengidentifikasi hambatan agar pengelola sumur rakyat yang berstatus legal memperoleh kepastian usaha.

Bahlil juga meminta aparat keamanan memberikan pendampingan kepada pengelola sumur rakyat yang telah memiliki izin dan menjalankan aktivitas sesuai aturan lingkungan serta keselamatan kerja. Ia menegaskan bahwa rakyat, koperasi, dan BUMD boleh mengelola hulu migas selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

Peresmian Mini LNG Plant PT SAG diharapkan menjadi langkah penguatan hilirisasi gas bumi di daerah, yang tidak hanya menitikberatkan pada keuntungan bisnis tetapi juga ketahanan energi nasional dan kelancaran pasokan industri serta pengurangan tekanan impor LPG.