Aktivitas pasar perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai bangkit menjelang penutupan semester I-2026. Sejumlah perusahaan kembali mendaftarkan diri untuk penawaran umum perdana saham (IPO) setelah sempat melambat pada awal tahun.

BEI mencatat ada delapan calon emiten yang sedang dalam pipeline pencatatan saham. Di saat yang sama, penghimpunan dana melalui pasar modal sepanjang tahun ini mencapai Rp80,28 triliun, mencakup IPO, penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta rights issue.

Komposisi Calon Emiten

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyatakan delapan calon emiten tersebut terdiri atas satu perusahaan dengan aset skala kecil, satu aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar.

Berdasarkan sektor, mayoritas berasal dari sektor kesehatan (empat perusahaan), diikuti sektor barang konsumsi non-siklikal (dua perusahaan), satu perusahaan dari sektor barang konsumsi siklikal, dan satu perusahaan sektor infrastruktur. Belum ada calon emiten dari sektor basic materials, energi, keuangan, industri, maupun properti dan real estat.

Rincian Dan Target Penghimpunan

Sepanjang 2026, nilai Rp80,28 triliun tersebut terdiri atas sekitar Rp300 miliar dari IPO, Rp76,09 triliun dari penerbitan EBUS yang berasal dari 71 emisi oleh 43 penerbit, serta rights issue senilai Rp3,89 triliun dari empat perusahaan tercatat hingga 26 Juni 2026.

Berdasarkan data e-IPO BEI, sejumlah perusahaan yang sedang dalam proses IPO antara lain:

  • PT Niramas Utama Tbk (JELI)
  • PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL)
  • PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI)
  • PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX)
  • PT Bach Multi Global Tbk (BACH)
  • PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS)

Kelompok calon emiten tersebut diperkirakan mampu menghimpun sekitar Rp2,14 triliun. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) menjadi yang menargetkan penghimpunan terbesar, sekitar Rp683 miliar, diikuti target dari calon emiten lain seperti JELI (Rp392 miliar), EMMI (Rp269 miliar), BACH (Rp307,5 miliar), PRDL (Rp62,7 miliar), dan RANS yang diperkirakan meraih Rp340–Rp428 miliar sesuai kisaran harga penawaran.

Respons Analis

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan meningkatnya aktivitas IPO mencerminkan perusahaan melihat peluang penggalangan dana lewat pasar modal walaupun tantangan pasar masih ada.

— “Perusahaan tentu melihat adanya peluang untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Artinya, mereka menilai kondisi pasar sudah lebih kondusif dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, meskipun investor tetap sangat selektif dalam menilai kualitas emiten yang akan IPO,”

Nafan menambahkan bahwa keberhasilan IPO kini bergantung pada kualitas fundamental emiten, prospek bisnis, tata kelola, dan valuasi yang ditawarkan—faktor yang menjadi perhatian utama investor saat ini.

Ia juga menilai kemungkinan terjadinya oversubscribe besar seperti pada masa boom IPO lalu relatif terbatas mengingat kondisi likuiditas global dan tingkat suku bunga. Namun, Nafan menilai pasar primer Indonesia berpeluang lebih aktif pada paruh kedua 2026 jika stabilitas pasar terjaga dan kondisi ekonomi domestik tetap solid.