PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) memutuskan membagikan dividen tunai meski laba bersih tahun buku 2025 anjlok hampir 50% akibat tekanan geopolitik, pelemahan daya beli domestik, dan lonjakan nilai tukar dolar AS.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung di Jakarta pada Senin (29/6/2026). Perseroan menetapkan dividen sebesar Rp 1,43 per saham atau sekitar 25% dari laba bersih 2025.
Landasan Keuangan dan Rasio
Direktur Keuangan Hasri Zulkarnaen menyampaikan laba bersih 2025 turun menjadi sekitar Rp 4 miliar, dari sekitar Rp 8 miliar pada tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai kondisi fundamental perusahaan masih terjaga.
Total aset meningkat menjadi sekitar Rp 115 miliar dari sebelumnya Rp 113 miliar. Rasio likuiditas tercatat kuat, dengan current ratio mencapai sekitar tiga kali kewajiban jangka pendek. Debt to equity ratio berada di level 69% dan rasio liabilitas terhadap aset sekitar 41%.
Keputusan RUPST Lainnya
Selain persetujuan dividen, RUPST mengalokasikan dana cadangan sebesar Rp 200 juta sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas. Rapat juga menyetujui kenaikan remunerasi direksi dan komisaris maksimal 10% dibandingkan tahun sebelumnya serta menunjuk kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan.
Tekanan Biaya Impor dan Strategi Mitigasi
Manajemen mengakui lonjakan kurs dolar AS hingga sekitar 20%–30% dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan biaya bahan baku yang sebagian besar diimpor. Untuk meredam dampak tersebut, perusahaan menerapkan strategi pengamanan stok bahan baku selama tiga hingga enam bulan agar dapat membeli pada harga lebih kompetitif.
Hasri mengatakan pendapatan ekspor dalam denominasi dolar menjadi natural hedge terhadap kenaikan biaya impor. “Dengan adanya penjualan ekspor ke Zambia, kenaikan dolar juga memberikan keuntungan dari sisi foreign exchange. Jadi terdapat keseimbangan antara pendapatan ekspor dengan pembelian bahan baku,” ujarnya.
Ekspansi Ke Afrika dan Pengembangan Produk
Direktur Utama Ardarini mengatakan ekspansi internasional akan menjadi motor pertumbuhan utama. Setelah memasok produk kepada Zambia Telecom, perusahaan tengah menjajaki kerja sama di Nigeria melalui agen bisnis setempat dan menargetkan menambah sedikitnya dua negara tujuan ekspor mulai 2027.
Perusahaan menilai Afrika prospektif seiring meningkatnya kebutuhan digitalisasi telekomunikasi dan migrasi penggunaan embedded SIM (eSIM). “Kami sedang menjajaki kontrak baru di Nigeria dan menargetkan dapat menambah negara tujuan ekspor lainnya di Afrika,” kata Ardarini.
Kapabilitas Produksi dan Produk Digital
Direktur Operasional Mulyo Suseno menyebut kapasitas produksi kartu SIM di fasilitas Jatake, Tangerang, mencapai sedikitnya 8 juta unit per bulan atau hampir 100 juta unit per tahun. Kapasitas produksi voucher (scratch card) mencapai 1 miliar unit per tahun.
Fasilitas ini melayani pelanggan domestik seperti Indosat, XL, Smartfren, BCA, serta kebutuhan ekspor. Di sisi teknologi, Direktur IT Pri Hastanto mengungkapkan perusahaan menjalankan proof of concept (POC) eSIM bersama Zambia Telecom sekaligus menguji implementasi jaringan 5G.
Selain telekomunikasi, CHIP mengembangkan solusi perangkat lunak seperti Enterprise Resource Planning (ERP) lokal, Warehouse Management System (WMS), platform roaming Koneqo, dan sistem absensi berbasis cloud Acton2.cloud. Ardarini menyatakan sejumlah produk akan mulai dipasarkan kepada pelanggan korporasi dan instansi pemerintah pada semester II-2026.
Perusahaan juga sedang mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari transformasi bisnis jangka panjang.
Capex dan Sertifikasi
Untuk mendukung ekspansi, CHIP mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 2 miliar–Rp 4 miliar sepanjang 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan investasi beberapa tahun sebelumnya karena pembangunan fasilitas produksi utama telah selesai; fokus investasi kini untuk pengembangan produk dan teknologi.
Dari sisi kualitas, perseroan mengantongi berbagai sertifikasi terkait mutu, keamanan, dan lingkungan, termasuk sertifikasi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk keamanan data produk SIM card dan voucher.
Proyeksi Manajemen
Manajemen optimistis kombinasi ekspansi pasar ekspor, pengembangan produk digital, penetrasi eSIM, dan diversifikasi layanan teknologi akan menjadi mesin pertumbuhan yang mampu mengembalikan kinerja setelah tekanan laba pada 2025.
“Ke depan kami akan memperkuat pertumbuhan melalui pasar baru, diversifikasi produk di luar telekomunikasi, serta mengembangkan model bisnis berbasis recurring income melalui layanan managed service,” ujar manajemen.
Ikuti Ihram.co.id
