Pemerintah mencatat delapan dari 11 komoditas pangan yang dikendalikan telah mencapai status swasembada menurut standar FAO. Namun beberapa komoditas, terutama cabai dan bawang merah, tetap mahal dan menyumbang inflasi.
Penyebab utama yang disebutkan bukan kekurangan produksi, melainkan masalah distribusi: pusat konsumsi sering jauh dari sentra produksi sehingga ongkos logistik menekan harga di tingkat ritel. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan sentra atau episentrum pangan baru dekat pusat konsumsi.
Proyeksi Produksi dan Kebutuhan 2026
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan 11 Komoditas 2026 (per 4 Juni 2026), delapan komoditas tercatat surplus, antara lain:
- Beras surplus 3.665.324 ton
- Cabai besar surplus 568.188 ton
- Cabai rawit surplus 678.512 ton
- Jagung surplus 1.653.621 ton
- Daging ayam surplus 1.310.318 ton (ekspor)
- Telur ayam surplus 820.652 ton (ekspor)
- Bawang merah surplus 87.106 ton (ekspor)
- Gula konsumsi surplus 207.477 ton
Sementara tiga komoditas belum swasembada dan masih bergantung pada impor: bawang putih 694.770 ton, kedelai 2.494.897 ton, dan daging sapi/kerbau 183.379 ton. Total produksi 11 komoditas tercatat 73.755.193 ton dengan kebutuhan 68.137.041 ton sehingga surplus 5.618.152 ton.
Respons Pejabat
Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional menyatakan Indonesia telah swasembada pangan untuk komoditas yang dikendalikan pemerintah. Ia menjelaskan perhitungan persentase impor terhadap produksi sehingga angka impor berada di bawah ambang FAO yang digunakan sebagai rujukan.
Ihram.co.id — “Yang tiga belum swasembada, yakni bawang putih, kedelai, daging sapi/kerbau, total impornya 3,5 juta ton. Total kebutuhan 11 komoditas itu 68 juta ton, produksi 73 juta ton… itu 4-5%,”
Ia juga menyerukan agar pemahaman tentang capaian swasembada disampaikan kepada kepala daerah. Menurutnya, beberapa komoditas seperti beras, jagung pakan, daging ayam, dan telur bahkan mengalami surplus hingga diekspor.
Menanggapi lonjakan harga beberapa komoditas, Menteri Dalam Negeri menyatakan pengendalian harga beras berjalan baik sehingga bukan lagi kontributor utama inflasi. Namun ia menyoroti bawang merah dan cabai yang meski swasembada masih mengalami kenaikan harga karena jarak distribusi dari sentra produksi.
“Persoalannya, mungkin ini perlu ada sentra pangan baru… sentra produksinya jauh dan harus didistribusikan ke seluruh Indonesia, sehingga membuat adanya tambahan ongkos transportasi yang membuat harganya naik,”
Kepala BPS melaporkan bahwa komoditas yang dominan memberi andil inflasi komponen bergejolak pada Mei 2026 adalah cabai merah dan bawang merah.
Pasokan Beras dan Intervensi
Kementerian Pertanian menyatakan pasokan beras aman dan bukan lagi pemicu utama inflasi. Untuk menjaga stabilitas harga, Kementan menjalankan distribusi bersama pemerintah daerah, Perum Bulog, dan ID Food serta mendorong pasar murah untuk membantu konsumen dan petani/peternak.
Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog melaporkan stok beras yang dikuasai Bulog per 15 Juni 2026 mencapai 5.231.682 ton, terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah 5.220.679 ton dan komersial 11.003 ton. Stok ini tersebar di seluruh wilayah dan siap untuk intervensi jika diperlukan.
Intervensi harga beras dijalankan antara lain lewat SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dan bantuan pangan. Penyaluran SPHP pada Mei 2026 mencapai 112.637 ton, naik 4,37% dari bulan sebelumnya, sehingga total distribusi mencapai 336.140 ton atau 40,6% dari target periode Maret–Desember 2026. Distribusi bantuan pangan beras direalisasikan sebesar 545.790 ton dari pagu 664.888 ton.
Pernyataan resmi menegaskan akar masalah kenaikan harga pada beberapa komoditas lebih banyak terkait distribusi ketimbang ketersediaan pasokan, sehingga perbaikan logistik dan pembentukan sentra baru menjadi opsi kebijakan yang diusulkan.
Ikuti Ihram.co.id
