Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada pemilik kapal, menegaskan bahwa setiap rute pelayaran baru di Selat Hormuz yang ditetapkan tanpa koordinasi dengan otoritas Iran dianggap berbahaya dan tidak dapat diterima.

Pernyataan militer Iran itu menyatakan akan ada tindakan tegas terhadap kapal-kapal yang mengabaikan instruksi tersebut, sekaligus menegaskan tekad pemerintah untuk mempertahankan kendali atas jalur strategis itu.

Menurut pernyataan Angkatan Laut IRGC, hanya rute pelayaran yang ditentukan oleh Iran yang diizinkan untuk dilewati. Koordinasi melalui saluran komunikasi resmi dengan pasukan Iran dinyatakan wajib bagi seluruh kapal.

“Navigasi di luar rute-rute resmi ini sangat berbahaya dan dilarang. Kami memperingatkan semua kapal untuk benar-benar menghindari pergerakan di luar koridor yang telah ditentukan,” kata Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan yang dirilis oleh pihak militer.

Peringatan itu muncul setelah sebuah kelompok informasi angkatan laut mengusulkan koridor pelayaran alternatif akhir pekan lalu, menganjurkan transit melalui rute selatan sambil tetap mengaktifkan sinyal transponder. Pemberitahuan tersebut menyebut rute selatan yang melintasi perairan teritorial Oman telah dikonfirmasi bebas ranjau dan direkomendasikan.

Aktivitas Pelayaran Masih Terkendali

Data lalu lintas laut menunjukkan ada pemulihan awal aktivitas di selat tersebut, dengan jumlah kapal transit melonjak menjadi 93 kapal pada akhir pekan lalu dibanding periode sama sebelumnya. Namun angka itu masih di bawah level sebelum konflik, ketika biasanya lebih dari 100 kapal melintasi selat setiap hari.

Saat ini operator kapal disebut masih menggunakan kombinasi pola rute dari Iran, Oman, dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk melewati titik rawan. Para operator bergerak sangat hati-hati dan belum kembali ke pola lalu lintas normal.

Imbas Politik dan Ekonomi

Tingkat ketegangan politik meningkat setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada Otoritas Selat Teluk Persia milik Iran pada Mei 2026, dengan tuduhan pungutan terhadap perdagangan maritim global. Menteri Keuangan AS memperingatkan pemerintahannya tidak akan menoleransi sistem pungutan di Selat Hormuz dan akan menindak pihak-pihak yang terlibat.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa kendali sepihak oleh Iran dapat memengaruhi aliran pasokan minyak dunia dalam jangka panjang. Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, menilai volume lalu lintas kapal tanker minyak sebelum perang kemungkinan menjadi titik tertinggi yang sulit dicapai lagi dalam waktu dekat.

“Setiap akhir konflik yang membiarkan Iran memegang kendali operasional dan pengaruh atas selat ini, menurut pandangan kami, akan menghasilkan arus lalu lintas komoditas yang jauh lebih rendah melalui jalur air tersebut,” ujar Croft.

Peran Strategis Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis bagi distribusi energi global. Terletak antara Oman dan Iran, selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Lebar bagian tersempitnya sekitar 33 kilometer.

Diperkirakan hampir seperlima dari konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari, termasuk pasokan minyak mentah dari negara-negara produsen besar yang ditujukan ke pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Selain minyak, selat ini juga menjadi rute utama bagi pengapalan gas alam cair (LNG) dari Qatar.

Karena signifikansi ekonominya, ketegangan politik atau ancaman penutupan di Selat Hormuz kerap memicu lonjakan harga minyak mentah dan mengancam stabilitas rantai pasok energi global.